Short Story #273: Tunggu Waktu

“Kalo diperhatiin baik-baik, banyak hal-hal kecil yang bisa dijadikan alasan kita buat bersyukur, ya.” Februa berceletuk sambil membiarkan desau angin meniup rambutnya untuk kesekian kalinya.

“Tentu saja.” Michael menjawab.

“Contohnya juga banyak.” Februa meneruskan sendiri. “Langit malam yang bersih. Lokasi yang bagus buat ngeliat kota. Sampai dengan suhu udara yang enak dengan beberapa angin.”

“Juga temen nongkrong yang asik.” Michael menambahkan sambil menebak-nebak arah omongan Februa.

Februa menoleh ke arah Michael yang sedang menyandarkan badannya dan menyesap kopi hangatnya.

“Kalo ga ketemu kamu, mungkin aku ga bakalan tau ada tempat seperti ini, yang bisa didatengin dengan cukup bebas, aman, dan ada pemandangan yang bagus.” Februa berkomentar.

“Yah.. tempat ini tinggal nunggu waktu aja sebenernya sampe kemudian semua orang tau, yang berarti kamu juga bakal tau dengan sendirinya.” Michael menjawab sambil menoleh pada Februa yang duduk di atas kap mesin mobil. “Ga ada hubungannya sama ketemu aku.”

“Menurutku ada, karena aku ga perlu nunggu waktu, jadi bisa tau duluan dibanding orang lain.”

“Well, if you say so…” Michael menyesap kopinya lagi. Santai menikmati heningnya malam dengan Februa.

“Kalo ga ketemu kamu juga, mungkin aku udah pindah keluar kota atau pergi jauh entah ke mana.”

“Semua orang pasti bakal pindah atau pergi, kok. Tinggal nunggu waktu aja.” Michael merespon kalem.

Februa melompat turun dari kap mobil. “Kalo kita bisa ketemu, apa sebenernya nunggu waktu juga?”

“Menurutku iya.” Michael bereaksi. “Kenapa kamu nanya begitu?”

“Karena menurutku, kalo cowokku yang terakhir ga sejahat itu dengan jalan sama cewek lain, mungkin aku ga bakalan ketemu kamu.” Februa berkomentar.

Michael diam. Ia menghela napas.

“Kalo kamu ketemu aku duluan, mungkin kamu ga bakalan dijahatin cowok kamu yang terakhir itu.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *