Short Story #27: After The Fight

“Kamu kenapa, sih?” tanya Frans dengan nada suara tinggi.

“Kamu yang kenapa? Tiba-tiba kok nadanya emosi gitu?!” Hana balik bertanya. Sama-sama dengan nada suara tinggi.

“Aku kan tanya, kamunya aja yang ga mau jawab!”

“Kalo tanya ya tanya biasa aja dong, jangan pake urat!” Hana setengah berteriak.

“Kamu tuh ya…”

“Apa?!”Hana menantang Frans dengan langsung memotong kalimatnya.

Lalu hening. Hana dan Frans masih saling menatap, namun sulit mengeluarkan kata-kata selanjutnya. Tanpa mereka sadari, di tengah-tengah parkiran motor itu, sudah ada beberapa orang yang memperhatikan.

“Aku mau pulang. Sendiri.” ucap Hana pelan. Lirih.

Frans tak melarang. Ia diam berdiri sambil menatap tanah.

Tak lama, Hana membenarkan letak tas di pundaknya dan berlalu ke arah belakang Frans. Langkahnya ia percepat, sambil terus menuju pinggir jalan raya. Matanya perih, terasa ada yang berkumpul di setiap sudutnya.

Frans masih diam. Ia menarik napas sambil melirik ke arah perginya Hana. Tapi kemudian, ia kembali melemparkan pandangannya ke depan. Tak mengindahkan Hana yang terus menjauh darinya.

Lalu Hana berhenti. Ingin rasanya ia mendapati Frans memanggilnya. Mengejarnya. Berada di belakangnya. Memeluknya.

Tapi tidak terjadi apa-apa.

Hana menoleh sekilas ke arah Frans dari balik pundaknya. Melihat Frans masih berdiri menghadap ke arah lainnya. Dengan jarak yang cukup jauh, dan membutuhkan teriakan yang kuat hanya untuk memanggilnya.

Dan kemudian, Hana pergi. Dengan taksi yang baru ia hentikan di pinggir jalan.

Beberapa jam setelahnya, Hana sudah di rumah. Menatap jendela kamarnya di lantai atas ke arah pagar depan rumah. Menanti. Mengharapkan seseorang menghentikan motor di sana, dan memanggil namanya. Berharap Frans.

Hana mengambil ponselnya. Ia menekan speed dial nomer ponsel Frans. Tapi sedetik kemudian, ia membatalkannya. Ia hendak menelepon, tapi ia tak terlalu ingin. Masih ada rasa kesal di dadanya, tapi sekaligus ia rindu dengan Frans.

Beberapa menit berlalu. Hana masih termangu dengan ponsel di tangannya sambil menatap ke arah jendela. Sampai akhirnya kemudian, ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke Frans.

Aku udah sampe rumah.
Kamu kalo udah sampe rumah, kasitau ya.
Thanks.

Dan kemudian, ia kirim. Bukan sesingkat itu yang ingin ia tulis sebenarnya, tapi jemarinya memiliki kehendak lain. Walau begitu, ia berharap-harap cemas dengan balasan yang tak kunjung tiba.

Hana melempar ponselnya ke arah kasur. Ia kembali duduk di tepian jendela sambil menatap keluar. Perlahan, langit yang telah gelap mulai menurunkan sebagian hujan ke bumi. Gerimis.

Lalu ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan singkat tiba. Segera saja Hana menoleh dan mengambil ponselnya sambil berharap bahwa itu dikirim dari Frans.

Syukurlah kamu udah sampe rumah.
Aku masih di parkiran tadi, nunggu kabar dari kamu.
Biar kalo ada apa-apa, bisa langsung aku cari.
Dan sekarang, keburu ujan. Jadinya aku neduh dulu di pos satpam.
Nanti aku kabarin lagi.

Sekilas, senyuman tersungging di wajah Hana.

11 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *