Short Story #269: Ada Aku

“Beberapa hari belakangan ini, berasa banget 24 jam sehari itu ga cukup.” Dicky┬áberkomentar sambil menghela nafasnya, sambil duduk jauh di belakang salah satu panggung acara musik.

“Ya kan namanya juga lagi ada event.” Zahra merespon. “Segala macem harus dipastiin jalan kan, dan syukurnya sampe jam kesekian di hari H ini semuanya lancar.”

“Well.. actually I’m not talking specifically about my job.” Dicky langsung merespon sambil berganti posisi duduk, mencari posisi nyaman di dalam ruangan dengan┬ápanggung yang sesekali bergetar karena efek suara dan speaker.

“Trus soal apa?” Zahra bertanya sambil minum air mineral dari botol yang sedari tadi dipegangnya.

“Soal semuanya. Rasanya 24 jam sehari ga cukup kalo harus profesional di kerjaan, sambil juga jadi anggota keluarga yang baik, sekaligus cari waktu buat diri sendiri.”

“Maybe you need a day off.” Zahra menyarankan.

“Buat apa day off kalo pas kerja lagi tetep aja 24 jam ga berasa cukup?”

“Trus maunya gimana? Nambah sehari jadi lebih dari 24 jam kan ga mungkin.”

“Entahlah.” Dicky menjawab lemah. Lelah. Ia menghela nafas lagi. Meski sekelilingnya tampak sibuk, tapi Dicky tampak mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.

“Mungkin kamu perlu lebih utilize kru kamu.”

“Sudah. Bahkan ada yang sampe sakit, tapi masih dibela-belain buat kerja. Semangat-semangatnya hebat.” Dicky memberitahu. “I’m just hoping they will not resign.”

“They will not.” Zahra merespon. “They are having a great team leader. Dan mungkin semangatnya itu mereka dapetin dari kamu.”

“Iya. Mungkin.” Dicky coba memejamkan matanya. Mencuri waktu untuk sedikit terlelap dan memulihkan tenaga.

“Mungkin juga kamu butuh bantuan orang lain, yang ga di circle kamu.” Zahra menyarankan.

“Buat apa?”

“To help you balancing your life, lah.”

Dicky mengubah posisi duduknya. Tertarik. “Siapa contohnya?”

“Ada aku.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *