Short Story #268: Me Time

“Kita perlu break.” Sandra memberitahu Fahmi setelah mereka selesai menyantap makanan.

“Don’t ruin the moment, please.” Fahmi meminta sambil melihat sekeliling mereka. Tempat makan siang itu memang bagus, dikelilingi oleh area hijau yang asri dan cuaca yang adem.

“Justru ini momennya.”

“Tapi aku ga pengen ngomongin soal itu. Aku cuma pengen ke sini, bedua sama kamu, nikmatin suasana.”

“Tapi aku ga bisa.” Sandra berusaha agar tetap pada topik yang ia lontarkan.

Fahmi kesal. Sebal. Walau begitu, ia coba lebih bersabar. Ia menarik napas.

“Kenapa kita perlu break?”

“Supaya kita bisa punya waktu untuk masing-masing.”

“Me time, maksudmu?” Fahmi bertanya sambil menyesap teh hangatnya.

“Iya. Itu.”

Fahmi menarik napas lagi.

“Emang kamu ga pengen ngelakuin apa yang kamu mau? Nonton teater, jalan-jalan backpack, atau weekday getaway? Pokoknya semua yang aku bakal ribet karena aku ga biasa.”

“Ya pengen.. Tapi-”

“Aku juga sama.” Sandra memotong. “Aku juga pengen me time pergi ke salon, ke shopping center, atau makan di mana gitu tanpa harus mikirin waktu atau gimana ke sananya. Yang penting seneng. Pokoknya hal yang ga perlu perencanaan teratur kaya’ yang suka kamu buat.”

“Oke. Aku paham.”

“Paham kan, kenapa harus break?”

“Aku paham soal me time-nya, tapi ga make sense kalo itu jadi alasan break.” Fahmi menjawab sambil menyandarkan badannya ke kursi sambil menyelonjorkan kakinya di bawah meja.

Sandra mencondongkan badannya ke arah Fahmi. “Trus gimana?”

“Buat aku, me time itu ga selalu cuma ‘time for me’.”

“Trus apa?”

“Me time itu juga bisa berarti ‘time for me doing things on my own ways for things that I know good or the best for both of us.'”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *