Short Story #263: Di Dapur

“Jaman makin berubah ya.¬†Apalagi soal perempuan.” celetuk Galih saat menunggu bus di halte kampusnya.

Ratna yang duduk di sampingnya mengernyit. Ia tidak sedang curi dengar karena kebetulan sedang duduk di sebelah Galih, karena memang ia dan Galih terbiasa untuk ke kampus bersama-sama.

“Maksudmu?” Ratna penasaran.

Galih menurunkan koran yang tengah dibacanya. “Ya ini.. sekarang perempuan banyak banget yang duduk di posisi penting. Udah wara-wiri ke sana-sini. Astronot aja udah ada, ‘kan.”

“Oh. Iya jelas. Kesetaraan gender kan sudah makin maju dan hampir di segala bidang.” Ratna menimpali.

“Padahal dulunya katanya tempat perempuan itu di kasur, sumur, dan dapur.” Galih melanjutkan.

Ratna mengernyit lagi. “Aku pernah denger ungkapan seperti itu. Dan aku ga suka.”

“Kenapa?” Galih melipat korannya.

“Ya… kalo ungkapan itu masih berlaku, mana bisa aku duduk di sini nunggu bus buat kuliah?”

“Bener juga.” Galih menyetujui. “Tapi harusnya ada sisa-sisanya dikit lah..”

“Apa maksudnya?”

“Ya… jangan semua tempatnya ditinggalkan. Tetep harus punya keahlian di masing-masing tempat itu, sumur-kasur-dapur.” Galih melanjutkan. Ia tak menyadari jika komentarnya mulai menyinggung Ratna.

Meski sebal, Ratna tetap berusaha tak merespon. Ia tahu cukup detail sistem pengajaran di dalam keluarga Galih yang masih menganggap lelaki adalah pusat kehidupan.

“Dari tiga tempat itu, aku pikir di jaman sekarang ini paling penting perempuan tetep harus ada di dapur sih, kalo yang lainnya udah ditinggalkan.” Galih tiba-tiba menambahkan.

Ratna langsung menoleh. “Lebih baik kamu pikir baik-baik ucapanmu itu.”

“Kenapa?”

“Karena di dapur itu segala jenis pisau dan benda tajam lainnya bisa didapatkan.”

 

NB: terinspirasi dari bio profil twitter mbak Wiwikwae.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *