Short Story #259: Hidup-Mati

“All those who live, shall die.” Maria menggumam pelan di dalam gelap.

“Maria, hentikanlah ucapanmu itu.” Steffi merespon. “It’s not helping.”

“What do you expect?” Maria langsung menjawab dengan nada suara meninggi. Dari balik gelap ia mendekati bagian ruangan yang disinari cahaya temaram lilin.

“Aku expect kita semua bisa selamat.” Steffi menjawab segera. Emosi. Dadanya naik turun karena napasnya memburu.

“Cut it out. Sekarang kalian berdua yang ga helping sama sekali.” Max ikut berbicara dari salah satu sudut ruangan.

Maria dan Steffi sama-sama melihat ke arah Max yang memegang seorang anak. Lalu mereka kembali saling menjauh.

“We need to get out from here. Find a better place to be safe.” Steffi berkomentar.

“Iya, tapi tunggu sebentar lagi.” Max merespon.

Seorang anak perempuan yang sedari tadi diam menarik tangan Max yang menggandengnya. Max menoleh, lalu berlutut.

“Max, kalo semua yang hidup pasti mati, apa berarti yang ga hidup ga bakalan pernah mati seperti yang di luar sana itu?”

Max diam sejenak. Berpikir.

“Ga perlu mikir seperti itu, Manis. Yang terpenting adalah, kita harus cari tempat yang lebih baik supaya kamu aman.” Max menjawab.

Diterangi api yang terus bergoyang dari lilin yang mulai memendek, anak perempuan itu melihat Max kelelahan. Ia juga melihat Steffi mulai putus asa sementara Maria lagi-lagi berada di dalam gelap.

Tapi setidaknya itu penglihatan yang lebih baik untuk ia lihat, ketimbang makhluk-makhluk yang dulunya manusia di luar ruangan tempat mereka berlindung saat ini. Berarak-arak mencari sesuatu untuk memenuhi nafsu yang tersisa dari onggokan daging bertulang: LAPAR.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *