Short Story #257: Sejarah Pemenang

“Keren, tim underdog bisa masuk ke final.” Dena berkomentar sambil menyiapkan kostum.

“Kamu lagi ngomongin kita?” Astri menjawab sambil menyiapkan sepatu.

“Ya, siapa lagi? Coba di awal-awal kompetisi, siapa sih yang nyangka kita bisa sampe babak final?” Dena menjawab.

“Ga ada.” Astri menjawab. “Tapi aku emang pengen kita menang.”

“Maksudmu, setelah sampai di final, jadinya nanggung kalo kalah?”

“Nope, aku emang INGIN MENANG kompetisi ini.” Astri menjelaskan.

“Jadi beban ga sih kalo emang ngebet menang gitu? Ngebet jadi juara?”

“Kalo kamu ada di posisi aku, justru jadi beban kalo ga menang.”

“Oh iya, you’re living on somebody else’s success.” Dena teringat sesuatu.

“Dan selama ini itu selalu jadi bayang-bayang setiap kali aku mau ngelakuin sesuatu.” Astri menambahkan.

“Padahal kan, kompetisi ini dan juga hal yang mereka lakuin beda bidang. Jauuuuuhh banget.”

“Apapun, yang penting sukses.” Astri menegaskan. “Kompetisi ini jadi pilihanku, dan ini kesempatanku buat buktiin kalo aku emang bisa ngelakuin sesuatu dan jadi juara atau ahli.”

“What is wrong with you and all those champion things, anyway?” Dena berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan menyiapkan kostum.

“Karena sejarah adalah milik para pemenang.” Astri menjawab.

Dena tersenyum kecil. Ia tak mengharapkan Astri untuk meresponnya, tapi ia justru kemudian terpikir untuk meresponnya lagi.

“Iya, entah itu sejarah hanya mencatat para pemenang, atau para pemenanglah yang menentukan bagaimana sejarah harus tercatat.” Dena berkomentar.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *