Short Story #256: Kemenangan

“Berhari-hari kalian nginep di lab, dan hasilnya cuma begini?” Francis, salah satu dosen senior di fakultas teknik mengomentari hasil kerja anak didiknya.

“Ini baru purwarupa, Pak. Masih akan dikembangkan lagi, sesuai review hari ini.” Abdul yang menjadi team leader, menjawab.

“Ga ada yang bisa di-review!” Francis langsung menjawab. Kecewa.

Abdul dan yang lain terdiam.

“Sudah, pulang saja dulu kalian sana. Tunggu catatan saya nanti dari yang kalian kerjain ini.” Francis memerintah.

Tanpa diulang, Abdul dan teman-temannya membereskan perlengkapan mereka, lalu keluar dari lab dan pulang. Tinggal Francis dan Wawan, koleganya yang masih berada di lab mengamati hasil kerja anak didik mereka dalam diam.

“Ga perlu sekeras itu sama mereka. Namanya juga mahasiswa.” Wawan memberitahu.

“Aku ga keras, Wan. Aku tegas.”

“Ya, apapun itu, harusnya kamu bisa lebih kasih apresiasi.”

“Apresiasi apa? Kamu liat sendiri hasilnya ini seperti apa, ‘kan?!” kekesalan Francis kembali muncul. Ia lalu mondar-mandir di sekitar hasil kerja anak didiknya.

“Kalo mentalnya udah keburu jatoh pas persiapan gini, jangankan menang, tes pertama di kompetisi juga bakalan langsung jiper mereka.” Wawan melanjutkan sambil kemudian berjongkok. Melihat beberapa bagian dari hasil kerja Abdul dan tim.

“Yang paling penting bukan menang, tapi bisa beneran operasional apa engga? Sesuai standar apa engga? Termasuk inovasi atau improvement apa bukan? Itu yang penting.”

“Kamu ngomong gitu seakan-akan kalo pun mereka menang, ga akan ada artinya sama sekali sama kamu.” Wawan merespon. “Emang kamu ga bangga kalo mereka menang?”

Francis mendengus. “Kebanggaanku itu kalo mereka bisa lebih jago dariku. Bukan sekadar menang, tapi beneran bisa jadi lebih mahir.”

Wawan diam coba mencerna.

“Kemenangan sejati seorang pelatih atau pengajar, adalah apabila didikannya bisa lebih sukses dan lebih baik daripadanya, Wan.” Francis memberitahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *