Short Story #254: Jakarta

“Gue ga pernah ngerti kenapa lo demen banget naik busway malem-malem, ke arah ujung satunya dulu baru kemudian pulang. Jadi muter-muter ga jelas, padahal rumah lo deket banget kalo sekali jalan pulang.” Eko berkomentar sambil memegang pegangan bus transjakarta yang sedang berjalan.

“Sengaja. Buat liat-liat.” Kania memberitahu. Ia duduk di depan Eko yang berdiri di depannya.

“Enaknya kalo udah capek kerja itu cepetan pulang, Kan. Istirahat. Atau cari hiburan, kek.” Eko kembali berkomentar.

“Buat gue ini hiburan.” Kania menjawab. “Nyadar ga sih lo, Jakarta tuh cantik banget kalo diliat malem-malem gini. Jalanan udah mulai sepi, lampu-lampu nyala di sana-sini.”

Eko diam. Sambil masih berdiri ia melihat ke luar jendela belakang Kania, sementara Kania melihatnya dari duduknya. Kontras dengan sekeliling mereka yang asyik dengan perangkat di tangan masing-masing.

“Gimana, cantik kan?”

Eko tak langsung menjawab. Ia menelan ludah dulu. “Dan selama ini gue selalu ngira kalo Jakarta itu kota yang laki.”

“Siang dia jadi laki. Jantan, angkuh, dan terlihat riuh dengan penuh kekuasaan.” Kania menjelaskan. “Tapi kalo malam, dia jadi perempuan. Cantik.”

“Dan juga misterius.” Eko menambahkan. “Banyak hal yang terjadi di malam hari ga keliatan jelas, samar, dan tersembunyi.”

“Tapi dia tetaplah cantik.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *