Short Story #251: Angry

BUKK! Randy meninju dinding ruang tamu dengan kepalan tangannya. Matanya terasa panas. Dadanya sesak. Napasnya memburu, namun perlahan memelan.

Tak ada sakit yang terasa di tangannya. Bahkan, ia tak merasakan apa-apa untuk beberapa waktu sampai aliran darah dan otot di tangannya berdenyut protes. Tapi, ia abaikan.

Ia menatap perempuan di depannya yang balik menatapnya tajam. Randy tahu perempuan tersebut terlihat kuat di luar, tapi rapuh di dalam.

“Aku benci tiap kali kamu marah, langsung mukul tembok begitu.” Vivian mendengus.

“Aku juga benci harus ngelakuin itu. Mukul tembok gini.” Randy memberitahu segera.

“Trus kenapa kamu lakuin? Kenapa tiap kali kita ribut kamu pasti begitu?” Vivian meninggikan suaranya.

Randy diam tak langsung menjawab. Ia masih menatap Vivian yang balas menatapnya galak.

“Kamu kan udah janji, ga bakal ngelakuin kekerasan…” suara Vivian kali ini memelan.

“Aku janji ga akan pernah ngelakuin kekerasan sama kamu.” Randy memotong segera.

Diam. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.

“Kenapa harus begini sih?” Vivian bergumam. Pandangannya mengarah ke lantai. Ia bermaksud untuk bertanya pada dirinya sendiri. Tapi…

“I need you to know that I’m angry. And this is my way to express it to you, since I don’t like yelling out at you.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *