Short Story #250: Pilihan

Mala menggigiti bibir bawahnya. Cemas. Beberapa kali ia melihat ke arah arloji bergantian ke ambang pintu apartemennya. Menunggu.

KLIK! Suara anak kunci terbuka hampir saja membuat Mala melompat terperanjat. Tapi ia menarik napas panjang dan coba mempersiapkan dirinya.

“Lho, udah pulang?” ujar Angga heran sesaat setelah membuka pintu lebar.

“Iya, udah dari siang tadi sebenernya.” Mala menjawab dari arah sofa.

“Oh…” Angga kemudian menutup pintu, melepas mantelnya, dan langsung berbelok menuju dapur untuk mengambil minum.

Mala kembali menggigiti bibir bawahnya sebelum kemudian menarik napas dan berdiri. Ia mendekati Angga yang sedang berada di meja tengah dapur.

“Sukses?”

“Apanya?” Mala merespon cepat, namun dengan perasaan bingung.

“Audisinya?”

“Oh itu…” Mala menjawab sambil kemudian memainkan jarinya di atas meja.

“Gagal ya?” Angga menebak.

“Aku ga tau. Soalnya aku ga ke sana tadi siang.”

Angga mengangkat sebelah alisnya. “Oh, emang ke mana?”

Mala kembali menggigit bibir bawahnya. Bingung hendak menjawab atau tidak. Jikalaupun menjawab, apakah perlu berbohong atau jujur saja.

“Aku ketemu Daniel.” Mala akhirnya memberitahu. Nada suaranya pelan, tapi cukup terdengar oleh Angga yang berada di depannya.

Angga menurunkan gelasnya, melihat ke arah Mala yang tengah balik menatapnya. Tatapannya terlihat kesal, ia bisa merasakan jika Mala mengetahui itu, tapi….

“It was only a quick meet.” Mala memberitahu. Merasa bersalah. “Ada beberapa hal yang perlu diberesin.”

“Aku pikir semuanya udah beres sejak terakhir kali itu.”

“Emang udah.” Mala menjawab cepat.

“Trus?”

Mala diam. Ia kehabisan kata-kata. Tepatnya, ia kehabisan keberanian untuk mengucapkan kata-kata.

“We’re done.” Angga memberitahu.

“But it was just a meet. We’re talked, and that’s it..” nada suara Mala mulai terdengar putus asa.

“Dulu juga awalnya ketemuan biasa.” Angga merespon sambil kemudian berjalan menjauhi meja, mencoba keluar dari area dapur.

“Angga…” Mala memegang tangan Angga sebelum menjauh.

“Please don’t make me as an option.” Angga memberitahu. Membiarkan Mala di balik badannya.

“Tapi aku memilih untuk bersama kamu.” Mala merespon.

“Kalo kamu beneran milih buat bersama aku, ga bakalan pernah ada yang namanya Daniel.” Angga memberitahu. “If you are really in love with me, you won’t have the second option since the very first.”

Perlahan-lahan, pegangan Mala di tangan Angga melonggar dan terlepas.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *