Short Story #249: Distractions

“Aku masih ga gitu ngerti kenapa kamu sampe jadi relawan bencana gitu.” Jane mengomentari Dian yang tengah mengepak barang ke dalam tas ranselnya. “Siap ninggalin apa aja semua kesibukan kamu seketika ada panggilan buat bantu-bantu daerah bencana. Mending deh kalo kamu jadi relawan itu sesuai yang kamu pelajarin di kuliahan, lah ini… malah jadi guru anak-anak!”

Dian tersenyum, tanpa menghentikan kegiatan mengepaknya.

“Aku beneran penasaran, bagian mana dari engineering yang bisa dipake buat ngajarin anak-anak?” Jane menambahkan. “Apa kamu ngeshare ke mereka soal gimana mereka harusnya jadi insinyur yang kelak mungkin bisa prediksi bencana?”

“Hampir ga ada engineering sama sekali, sih.” Dian memberitahu di sela-sela kegiatannya.

“Trus? Kenapa kamu masih mau jadi relawan? Udah ada tiga kali kayanya deh, kamu ninggalin bangku kuliah buat jadi relawan. Untungnya aja, semuanya pas lagi libur atau bukan ujian.”

“Buatku untung karena ga ganggu kuliah, tapi buat yang kena bencana? Mereka masih bisa napas dan makan sambil berada di tempat penampungan itu udah cukup beruntung.” Dian memberitahu.

“Still, I can’t get it.” Jane kembali berkomentar.

Dian menutup ranselnya, lalu membuat tali simpul di atasnya. Lalu ia berdiri, menghadap Jane yang tengah berada di ambang pintu kamarnya.

“Sometimes what people really need is distractions. So they forget what their real problems are.” Dian memberitahu. “And the most perfect distractions for those who are unlucky because of disasters? Seeing their young ones happy, and still having good educations.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *