Short Story #246: Fixed

“Penasaran aja nih Ren, kenapa kamu mau nerima lagi Adit?” Lola bertanya sambil menyetir mobilnya di tengah jalan Jakarta yang macet.

“Karena aku sayang sama dia.” Rena menjawab singkat.

“Beneran sayang?” Lola bertanya lagi.

“Iya.”

Lalu hening. Lola diam sambil kemudian menghentikan mobilnya di depan lampu merah.

“Kenapa kamu nanya begitu?” Rena balik bertanya.

“Aku pengen aja. Penasaran kan tadi aku bilang.” Lola menjawab.

“Penasaran karena?”

“Karena aku pengen tau.”

“Kenapa pengen tau?”

“Karena aku penasaran.”

Rena berhenti sejenak. Ia sudah terbiasa bercakap-cakap dengan Lola dengan pertanyaan dan jawaban yang selalu berputar. Tapi, ia tetap butuh tahu apa alasan Lola bertanya tentang hubungannya.

“Apa yang ada di pikiranmu setelah tau aku balik lagi sama Adit?”

“Aku terkejut sih.” Lola menjawab sambil kembali mengemudi setelah lampu merah berganti hijau.

“Oh.”

“Aku terkejut karena menurut aku kamu harusnya move on dari dia.” Lola menjelaskan tanpa diminta.

“Aku move on dari masa lalu, tapi dengan orang yang sama.” Rena merespon.

“Ya… itu pilihanmu, sih. Sama seperti aku yang boleh memilih untuk berpendapat bahwa ga seharusnya kamu balik lagi sama Adit.”

Rena diam. Ia agak sebal dengan komentar Lola, tapi ya… apa haknya dia untuk melarang Lola berkomentar? Sama seperti ia tak mau dilarang oleh Lola untuk berhubungan dengan Adit.

“I know… my heart was broken because of him.” Rena bergumam sambil melihat ke arah luar jendela. Ke mobil-mobil yang mulai menyalakan lampunya karena hari berganti malam.

“Itu dia alasan komentarku.” Lola langsung berkomentar.

“Apa?”

“You can’t be fixed by the person who broke you.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *