Short Story #243: Jauh Dekat

“Ternyata kabar itu benar. Kamu memang pergi hari ini.” Dara mengomentari seorang pria yang tengah menurunkan tas dari taksi di lobby keberangkatan bandara.

Pria itu berbalik. Ia tak tampak heran dengan kehadiran Dara.

“Aku percaya bukan kebetulan kita bisa ketemu di sini, sekarang.” Ihsan menjawab sambil membayar taksi lalu mulai mengenakan tas punggungnya, serta mengangkat sebuah koper kecil.

“Bawaanmu tak cukup banyak untuk orang yang pindah.” Dara melanjutkan komentarnya. Mengikuti Ihsan melangkah ke dalam bandara.

“Kenapa harus? Aku pindah kan buat mulai hal baru.” Ihsan merespon tanpa memperlambat langkahnya sambil mencari counter untuk check in pesawatnya. “Seperti restart, kadang beberapa hal emang harus ditinggalkan.”

“Termasuk aku?” Dara bertanya dari belakang Ihsan karena mulai ketinggalan.

Ihsan kemudian berhenti. Ia menunduk sebentar sambil menarik napas sebelum kemudian berbalik menghadap Dara.

“You have made your choices. So let me made mine.” Ihsan memberitahu.

“Tapi soal pindah keluar negeri ga pernah jadi pilihan. Dibahas sekalipun belom pernah seingatku.” Dara merespon dengan mengontrol nada suaranya agar terkesan datar.

“Seingatku, beberapa hal tak perlu kubahas lagi denganmu setelah kamu mengambil putusan itu.” Ihsan membalas. “Karena kamu pun melakukan hal yang sama, bukan?”

Dara diam. Ia seakan-akan kehabisan kata-kata.

“Oke. Sudah kuduga.” Ihsan siap berbalik lagi namun terhenti.

“Jadi kamu lebih milih untuk berada dengan jarak ribuan kilometer denganku?”

“Kalaupun jaraknya hanya belasan kilometer, apakah ada bedanya?”

“Aku tak tahu.” Dara menjawab pelan.

Ihsan diam. Dalam hatinya berkecamuk. Ia ingin sekali untuk mendekati Dara, memeluknya, dan mengucapkan perpisahan. Ia juga yakin Dara menginginkan hal yang sama. Tapi…

“I got to go.” Ihsan memberitahu.

“Mungkin kita emang butuh jarak yang begitu jauh supaya bisa tau lagi apa yang ga berhasil di antara kita, sebelumnya.” Dara mendadak berkata. “Mungkin jarak bisa bikin kita kembali ngerasain hal yang dulu pernah ada.”

Ihsan masih belum juga melangkah, namun ia sudah membelakangi Dara. Diam, ia mendengarkan.

“Mungkin jarak akan menghasilkan kerinduan untuk mendekat.” Dara melanjutkan. “Mungkin jarak jauh yang mendekatkan adalah yang terbaik.”

“Sepertinya begitu.” Ihsan tiba-tiba merespon. “Dan yang pasti itu lebih baik daripada tetap dekat, namun terasa amat jauh.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *