Short Story #241: Jauh

“Kamu lagi luang? Aku perlu bicara.” Imma mendadak menghampiri Yogi yang tengah asyik membaca buku di kantin kampus.

“Aku lagi luang, tapi… bukannya kita sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu?” Yogi bingung.

“Sudah kubilang kan, kalo AKU perlu bicara?”

Yogi hendak membantah lagi seperti biasanya, tapi untuk kali ini ia diam. Membiarkan Imma yang kemudian duduk di depannya.

“Ada apa?” Yogi bertanya sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.

Imma menggigit bibir bawahnya. Matanya sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Resah.

“Hei.. kamu bisa bicara apapun dan kapanpun, Imma.” Yogi memberitahu.

Imma menarik napas. Berharap agar dirinya menjadi lebih tenang.

“Aku tahu sebenarnya kita lagi sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu…” Imma mulai berbicara. “Dan, aku juga tahu kalo kesepakatan itu harus kita jalani, sesuai dengan obrolan terakhir kita.”

“Oke, terus?”

“Kayanya kita perlu buat kesepakatan baru.”

Yogi mengangkat sebelah alisnya. “Kesepakatan baru? Tentang?”

Imma menggigiti bibir bawahnya lagi. “Kesepakatan untuk mengakhiri kesepakatan yang sebelumnya.”

“Oke, aku bingung.” Yogi mengangkat tangannya sebatas pundak.

Imma menarik napas. “Intinya, kita udahin aja deh kesepakatan buat ga ketemu dan ga ngobrol dulu itu.”

“Lho, kenapa? Mendadak gini?” Yogi penasaran.

“Soalnya… semakin aku jarang berinteraksi sama kamu, aku ngerasa semakin jauh dari kamu.” Imma memberitahu. “Dan di saat yang bersamaan, aku jadi nyadar betapa pentingnya kamu ada di keseharian aku.”

Yogi diam. Berusaha mencerna.

“I miss you.” Imma memberitahu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *