Short Story 238: Pengakuan

“Aku mau ngakuin sesuatu sama kamu.” Sheila memberitahu Jerry di sela-sela acara rutin sabtu sore mereka: membaca buku di kedai kopi.

“Ya?” Jerry mengangkat pandangannya dari buku yang tengah dibacanya ke Sheila yang duduk di depannya.

“Dulu, kamu bukan pilihan pertamaku. Bahkan, kamu adalah pilihan terakhirku.” Sheila memberitahu. “Kalo ga ada yang lain dan sisanya cuman kamu, ya.. baru deh aku mau sama kamu.”

Jerry menaikkan sebelah alisnya. Tak ada tanda-tanda terkejut atau heran di wajahnya. “Dan kenyataannya memang begitu, kan?”

Dahi Sheila berkernyit. Ia sepertinya mengharapkan respon yang lain dari Jerry.

“Eh, jangan salah. Masih banyak kok yang mau sama aku.” Sheila menegaskan.

Jerry tersenyum. “Maksudku, akulah pilihan terakhirmu yang kemudian berani untuk membawamu ke jenjang selanjutnya.”

Sheila terdiam sejenak. Ia lalu tersenyum kecil sambil mendengus.

“Iya. Dan aku berterima kasih untuk itu.” jawab Sheila sambil kembali hendak membaca bukunya.

“Hm.. aku juga jadi pengen bikin pengakuan sama kamu.” Jerry menyimpan bukunya dan meminum kopinya.

“Apa itu?” Sheila antusias.

“Kamu juga bukan pilihan pertamaku. Aku pada saat itu lagi ngincer orang lain.”

“Siapa?” Sheila penasaran. Ada sedikit rasa sebal di dalam hatinya.

“Yang suka jalan bareng sama kamu. Ngerjain tugas, belajar kelompok, ikutan aktivitas kampus.” Jerry memberitahu.  “Ya, aku dulu ngincer dia.”

“Stephanie?” Sheila menebak yang langsung dijawab dengan alis yang terangkat dari Jerry. “Oh ya? Aku baru tau.”

“Kamu baru tau sekarang? Kayanya dulu udah jadi rahasia umum gitu, kalo aku ngincer dia.” Jerry sedikit heran.

“Kenapa dulu kamu ngincer dia?”

“Well.. dia baik, cantik, dan masih banyak lagi yang banyak orang perhatiin dan pengenin dari seorang cewek.” Jerry menjelaskan.

“Trus, kamu nyesel ga dapet dia dan malah dapet sahabatnya?” nada suara Sheila mulai meningkat. Walau begitu, ia berusaha untuk tenang dan santai.

Jerry tersenyum sedikit. Ia tahu jika emosi Sheila sudah mulai terpancing.

“Engga. Aku ga nyesel.” Jerry memberitahu. “Karena aku udah dapetin kamu, yang jauh lebih baik dari dia.”

Sheila menghembuskan napas. Lega.

“Dan yang paling penting…” Jerry melanjutkan, “Ga ada lagi orang yang berani buat deketin kamu setelah aku dapetin kamu. Kamu cuman buat aku.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *