Short Story #233: Belajar Berhenti

Jay menyimpan kunci-kuncinya di mangkuk dekat pintu apartemen, sembari kemudian melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu.

“Larut bener.” sebuah suara memecah keheningan.

Jay tak terkejut mendengar suara tersebut, walau ia tahu seharusnya ia sendiri saja mala mini. Di apartemennya.

“You know lah.” Jay memberitahu sambil  menyalakan lampu. Seorang wanita terlihat sedang duduk santai di sofanya.

Jay kemudian berjalan santai ke arah dapurnya, mengambil minum.

“Belom ambil minum, Sam?” Jay bertanya.

“Ga usah. Aku ga lama lagi jalan.” Samantha menjawab. “Bentar lagi harus ke bandara. Ngejar pesawat malam.”

“Balik lagi?”

“Yah, beasiswanya kan harus dikelarin biar gimanapun juga.” Samantha mengubah posisi duduknya. Kali ini lebih santai.

Jay mengangkat bahunya. Ia kemudian menarik dasinya sampai lepas, sambil minum air mineral lagi.

“Trus, di sini ngapain?” Jay tidak basa-basi.

Samantha diam sejenak. Menarik napas. Ia baru saja membuka mulutnya ketika Jay berkata lagi.

“Kalo kamu minta hubungan kita jadi baik lagi, jawabanku masih sama kaya’ terakhir kali kamu nanya.” Jay memberitahu sambil bergerak mendekati sofa tempat Samantha duduk. “Kapan ya itu, dua tahun yang lalu?”

Samantha tak langsung menjawab.

“Bener kan, kata-kata aku?” Jay memastikan.

“Aku ke sini sebenernya pengen tau kabarmu aja..”

“Dan caranya adalah dengan masuk tanpa izin ke apartemen aku?” Jay bertanya. Tak ada nada emosi dalam suaranya. “Padahal bisa telepon, email, atau ke kantor.”

“Banyak hal berubah. Ga semuanya bisa aku ikutin dan pelajarin.” Samantha memberitahu. “Lebih mudah bagiku datang ke sini-”

“Dan menungguku dalam gelap?” Jay menyela.

Samantha menarik napas, lalu tersenyum. “Aku kangen sama kata-kata sinis dan pedas darimu itu.”

“Bisa aku tambahin kalo kamu mau.” Jay memberitahu. Ia lalu melihat jam dinding. Sudah jam 1 dini hari. “Ada lagi?”

“Udah.”

“Oke. Kamu tau di mana pintu keluar kan.” Jay berlalu. Samantha lalu berdiri dan mengambil ranselnya serta membenarkan letak jaketnya. “Selamat belajar lagi. Semoga makin banyak yang bisa kamu pelajari.”

Samantha diam sejenak sambil melihat ke arah lorong menuju kamar Jay.

“Just for your information, ada satu hal yang belom bisa dan sulit banget aku pelajari selama ini.” Samantha memberitahu.

“Oh ya? Apa itu?” Jay menjulurkan kepalanya dari kamar.

“Belajar berhenti mencintaimu.” Samantha mengangkat ranselnya lalu pergi keluar dari apartemen.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *