Short Story #229: My Best

“I think we need a break.” Samuel memberitahu.

Ajeng yang sedari tadi hanya berdiam diri di sampingnya, menoleh. Seharusnya ia terkejut, tapi ia merasa biasa saja. Ia tahu, Samuel akan berkata demikian.

“Kita atau kamu?” Ajeng memastikan.

Samuel balas menatapnya.

“Ayolah, ‘Jeng. Kamu pasti tahu kondisi kita lagi ga baik. Daripada berujung ke sesuatu yang kita sesali bersama?” Samuel menjawab dengan pertanyaan.

“I’ll take it as you need a break.” Ajeng berkomentar. “Ga usah berdalih, deh.”

Ajeng kemudian melenggang menuju dapur apartemen. Membiarkan Samuel tetap duduk di kursi sofa ruang tamu.

Semenit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam berlalu dan Ajeng masih berdiam diri di dapur. Hampir tak melakukan apa-apa selain berdiri di dekat meja kecil dan menunggu.

“Kalo aku beneran perlu break, apa itu salah?” Samuel bertanya sambil berjalan mendekati Ajeng di dapur.

“Dan kamu butuh tiga puluh menit buat ngasih aku pertanyaan itu?” Ajeng balik menjawab dengan pertanyaan.

Samuel mengangkat tangannya sambil menghela napas. “Ayolah, Jeng. Inilah alasannya kenapa aku pikir kita butuh break.”

“Karena kamu selalu butuh waktu untuk bertindak?” Ajeng mulai meninggikan nada suaranya. Sebelah tangannya di pinggang, sementara sebelah lainnya mencengkeram pinggiran meja.

“Aku butuh waktu untuk berpikir, Jeng!” Samuel berteriak.

“Untuk kemudian minta break?!” Ajeng juga berteriak.

Samuel sudah mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, beberapa kata umpatan sudah berada di ujung lidahnya untuk kemudian ia lontarkan. Tapi…

“Kita break dari sekarang.” Samuel kemudian berbalik menuju ruang tamu. Bersiap pergi.

“Fine.” nada suara Ajeng masih tinggi. “…untuk jangka waktu yang tak ditentukan.”

Samuel berhenti sejenak sambil memakai jaketnya. Ia hendak merespon lagi, tapi ia urungkan.

“I’ll be back when you’re better than this.” Samuel memberitahu dengan nada suara pelan sambil kemudian membuka pintu.

“Ga usah balik sekalian!” Ajeng kembali berteriak. “If you cannot handle me on my worst, you don’t deserve me on my best!”

PRANG! Sebuah piring pecah menabrak pintu yang menutup.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *