Short Story #226: Worst Thing

“Kamu serius sama ucapanmu ini, Guh?” Icha bertanya. Memastikan yang didengarnya baru saja tak salah arti.

“Iya. Aku serius.” Teguh menegaskan. “Aku selalu serius dengan ucapanku, ‘kan.”

“Dan ga bakalan kamu tarik lagi?”

“Aku ga pernah narik ucapanku. Yang ada, aku hanya mengubah pikiranku dan mengubah keputusanku. Seperti saat ini.”

Icha berdiri dari duduknya. Ia berjalan bolak-balik di sekitar samping Teguh. Sesekali kepalanya melihat ke langit-langit ruang tengah apartemen.

“Tapi, bukannya kamu ga pernah seperti itu? Mengubah keputusanmu?” Icha tak yakin. Ia berhenti dan menunggu jawaban Teguh.

“Untukmu, aku rela melakukannya.” Teguh memberitahu. “Untukmu, aku rela melakukan apapun agar kau bahagia.”

Dahi Icha berkerut. “Apa hubungannya dengan kebahagiaanku? Dari mana kamu tahu apa yang membuatku bahagia?”

Teguh mengubah arah duduknya sehingga mengarah ke Icha yang sedang berdiri menghadapnya. Tangannya meraih tangan Icha, lalu menggenggamnya.

“Cha.. I’m your husband. I know you even though you deny it.”

Icha diam. Matanya melihat ke arah Teguh yang melihat balik ke arahnya.

“Bagaimana jika aku ga balik lagi? Kamu ga bakal nyesel udah ngebiarin aku pergi?” Icha bertanya.

“Aku bohong kalo bilang ga bakal nyesel.” Teguh menjawab dengan tenang. “Tapi, seenggaknya aku tahu kalo kamu bahagia dengan keputusanmu untuk pergi.”

Icha kembali diam.

“And whatever makes you happy, I’m happy.” Teguh menambahkan.

Icha semakin diam. Tangan Teguh ia lepaskan agar ia bisa berbalik dan mengangkat kepalanya ke arah lampu dengan harapan bisa menahan agar air matanya tak lekas jatuh melintasi pipinya.

Teguh menunggu. Ia lalu berdiri, berusaha mendekati Icha, hendak memeluknya tapi kemudian ia tahan. Ia hanya berdiri di belakang Icha yang masih membelakanginya, sedekat mungkin yang ia bisa.

Teguh kemudian mendekatkan kepalanya ke samping kepala Icha. Mendekatkan mulutnya ke telinga Icha.

“Cha, you should know that.. I thought the worst thing ever in my life is to see you go. But then I realize, seeing you unhappy is worse than that.” Teguh berbisik.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *