Short Story #221: The Best

“Kamu masih memakainya.” Catherine menepuk pundak Philip dari arah belakang.

“Selalu.” Philip menoleh lalu menjawab singkat sambil kemudian berhenti memutar-mutar cincin di jari manisnya. “Dan kamu masih saja memperhatikan hal detil.”

“Well.. kebiasaan lama susah hilangnya.” Catherine berkilah sambil menarik kursi di depan Philip. “Kamu pasti lebih tahu soal itu.”

“Enggak juga.” Philip menjawab.

Sejenak, Catherine merasa jawaban Philip menggantung, tapi kemudian ia mengabaikannya. Ia menghilangkan pikiran untuk bertanya lebih jauh walau ingin.

“Udah nunggu lama, ya? Sorry, tadi aku susah dapet parkiran.” Catherine berbasa-basi sambil matanya melirik 2 gelas kosong, dan 1 gelas setengah isi di meja.

“Ya gitu deh.” Philip menjawab singkat. “Kamu mau pesen minuman dulu?”

“Nanti aja.” jawab Catherine. “Let’s do business first.”

“If you say so.” Philip menjawab sambil menjulurkan tangan kirinya ke dalam tas punggungnya di bawah, lalu mengeluarkan sebuah map berisikan beberapa foto hitam putih. Tak lama, map tersebut sudah berada di tangan Catherine.

Catherine melihat beberapa foto yang Philip hasilkan. Beberapa kali ia berdecak pelan. Kagum. Momen-momen yang tercipta di foto tersebut, sesuai dengan harapannya.

“Berapa?”

Philip tak langsung menjawab. Ia menghabiskan terlebih dulu setengah isi gelas kopi yang tersisa.

“Anggap aja hadiah dariku.” Philip memberitahu tanpa ekspresi.

Catherine diam sejenak. “Berapa?”

“As I said, consider it as a gift.” Philip mengulang. “Pengingat masa-masa yang udah lewat.”

“Maksudmu masa lalu?” Catherine terpicu, suaranya sedikit bergetar.

“If you say so.” Philip menjawab cepat. Tenang.

Catherine diam. Ia merasa geram. Tapi, amarahnya tak bertambah.

“Aku ga biasa minta sesuatu dan ga ngasih imbalan.” Catherine memberitahu.

“Sudah kubilang, anggap aja hadiah.” Philip mengulang. Lagi.

“Kalo gitu, aku balikin.” Catherine menyodorkan kembali map berisikan foto-foto itu. “Aku ga bisa terima hadiah tanpa alasan.”

Philip diam sejenak menatap map di atas meja. Ia menghela napas, lalu mendorong kembali map tersebut ke dekat Catherine.

“It’s a gift for you, because you had been the best in my life.” Philip memberitahu sambil berusaha berdiri dan menarik tasnya. Tapi, ia berhenti. Catherine memegang tangannya.

“Pasti banyak yang lebih baik dariku.” Catherine berkomentar.

Philip melihat langsung ke mata Catherine yang menatap tajam ke arahnya. Masih sama. Getaran itu masih ada. Setidaknya, itu yang ia rasakan.

“How could I get a better one, if I had the best?” Philip bertanya sambil menarik lepas tangannya dan berbalik pergi.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *