Short Story #219: What We Can Do

“Kamu tahu kan, kalo aku ga bisa seperti yang mereka minta. Tahu, ‘kan?” nada suara Delia meninggi.

Rama yang tengah duduk di depannya memegang tangan Delia, berusaha menenangkannya. “Aku tahu.  Sekarang, duduklah.”

Delia hendak menepis, melepaskan pegangan Rama. Tapi… ia tak pernah bisa menolak sentuhan yang selalu membuatnya damai.

“Aku benci, Ram. Aku lelah.” Delia memberitahu.

Rama mendekatkan wajahnya ke telinga Delia. Seakan-akan takut seisi ruangan bisa mendengarnya.

“Aku tahu.” Rama berbisik. “Tapi seperti pernah kubilang, let me handle it.”

“Tapi Ram…” ucapan Delia terhenti karena telunjuk Rama menempel di bibirnya.

“Aku mencintaimu, Del. Apapun apa kata orang, apapun permintaan orang, aku mencintaimu.” Rama memberitahu. “Dan kuharap, kau mencintaiku seperti aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu, Ram. Lebih dari yang kamu tahu.” Delia merespon. “Tapi Ram, yang mereka bilang benar adanya. Hubungan kita sulit untuk diterima masyarakat.”

“Karena itulah kita unik.” Rama tersenyum. “It’s not about who you are, or who am I, it’s about what we can do together.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *