Short Story #21: Last Bus

Mila membenarkan letak tas selempang di pundaknya. Berat memang,
apalagi jika berisikan beberapa berkas penting.

Sambil berdecak pelan, Mila melihat arlojinya. Sudah hampir 10 menit
ia menunggu bus transjakarta di halte Permata Hijau. Ingin rasanya ia
keluar dari halte dan mencegat taksi. Tapi, nalurinya mengatakan
jangan. Apalagi hari sudah larut.

Sambil menunggu kedatangan bus transjakarta, Mila melihat-lihat
sekeliling halte. Masih ada 3 orang yang juga sama-sama menunggu.
Sejenak, Mila merasa beruntung sekaligus rugi. Untungnya, takkan
banyak orang yang akan berebut kursi dengannya, andai bus yang tiba
penuh. Ruginya, ia satu-satunya wanita di halte itu, selain penjaga
kasir di depan.

Ketika baru saja Mila mengubah lagi letak selempang tas di pundaknya,
bus transjakarta yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sekilas, ia dapat
melihat banyak bangku kosong untuk diduduki.

Setelah bus berhenti & pintu halte membuka, Mila masuk lewat pintu tengah bus.

Pikiran pertama yang muncul di kepala Mila adalah mencari kursi kosong
terdekat. Dan, hap! Ia langsung mendapatkan kursi tersebut di belakang
supir. Sambil membenarkan posisi duduk, ia menyimpan tas selempang di
pangkuannya.

Mila tak lagi menghiraukan penumpang lain yang tadi sama-sama menunggu
di halte. Ia hanya melihat sekilas ke orang-orang yang duduk di
samping & seberangnya sambil bus berjalan. Dan, saat itulah rongga
nafasnya seakan sesak.

Sambil berupaya tetap terlihat tenang & tak menimbulkan kecurigaan,
Mila mengeluarkan earphone dari saku jaketnya. Tapi sayang, bus
mengerem mendadak dan earphone tersebut terlepas dan jatuh di lantai
bus. Di antara Mila & orang yang duduk di seberangnya.

“Eh, Mila?” tanya orang yang duduk di seberangnya.

“Hai Ron.” jawab Mila menjawab Ronald. Ia buru-buru membungkuk
mengambil earphone yang jatuh, dan duduk tegak kembali.

Ronald hanya memperhatikan sambil menunggu.

“Tumben ketemu kamu di sini. Emang kamu ngantor di mana sekarang?” tanya Ronald.

“Tadi aku abis dari ITC. Kamu sendiri kok naek bus ini? Bukannya
kantor kamu di Sudirman?”

“Aku lagi iseng aja. Abis pusing sama kerjaan, trus pengen nyoba-nyoba
bus koridor laen.” jawab Ronald. “Eh, ITC? Emang di sana ada kantor
apa?”

“Ga, tadi aku abis meeting di Gandaria. Trus, sama temen-temen
diajakin ke ITC. Yah, ngumpul-ngumpul gitu, deh.”

“Wah, ada perayaan apa?”

“Ga ada yang spesial, Ron. Biasa aja. You know me lah, I’m just an
ordinary women..” jawab Mila pelan.

Sejenak, Ronald terdiam. Ia seakan teringat sesuatu.

“You’re not just ordinary, Mil. For me, you’re extraordinary…”

Kini, giliran Mila yang terdiam.

“Sudah jadi masa lalu, Ron.” jawab Mila.

“Iya, aku tau. Aku tiba-tiba keingetan aja..”

Lalu hening sementara bus transjakarta yang mereka tumpangi terus
berjalan dan berhenti di setiap halte menuju Lebak Bulus.

Mila baru hendak memasang earphone ke ipodnya ketika di kepalanya
terpikir sesuatu.

“Kamu udah berkeluarga, Ron?”

Ronald yang sedang melihat ke arah depan bus, langsung menatap Mila.
Tatapannya datar, dingin, seakan-akan memendam sesuatu.

“Nope. Not yet. Aku belom beruntung dapetin cewek lagi.” Ronald
menjawab dengan nada satir.

“Ooo..” ujar Mila.

“Kalo kamu sendiri?” Ronald langsung bertanya seakan tak ingin
kehilangan momentum.

Mila diam dan menarik napas sebelum menjawab. “Let’s say, nobody wants
to be with a selfish girl like I am.”

“Ooo…”

Lalu hening kembali. Mila pun mendengarkan lagu melalui earphone dari
ipodnya. Ia mencoba tak mengacuhkan Ronald, walau sesekali ia
mencuri-curi pandang hendak melihat apa yang sedang Ronald lakukan.

Diam, beku, menatap jalanan. Kegiatan Ronald itu membuat Mila
penasaran akan apa yang sedang dipikirkannya.

Ingin rasanya Mila tetap mendiamkan Ronald. Tapi, hati kecilnya bilang
bahwa itu salah. Lebih baik ia memberitahu Ronald. Lebih baik, jika
Ronald tahu.

“It’s my last bus, Ron.” ucap Mila.

Ronald menoleh. “Iya, aku juga.”

Mila berdecak pelan. “Maksudku, aku ga bakal naek bus ini lagi.”

Muka Ronald nampak terkejut. “Kenapa? Oh, aku tahu. Kamu ga nyaman ya
kalo kita ketemu? Ya oke, besok aku ga naek bus koridor ini lagi deh.”

Mila menggelengkan kepalanya. Dan, di saat itu pula terdengar
pengumuman bahwa bus transjakarta sudah mendekati halte Pondok Indah
2.

Mila berdiri, diikuti tatapan Ronald.

“Besok aku berangkat dengan pesawat pertama ke Melbourne. Dan mungkin,
ga bakal balik lagi dalam waktu dekat.” Mila memberitahu sambil
berpegangan pada handle busway. “And I’m still in love with you..”

Ronald tercengang dengan kalimat terakhir Mila. Seketika itu busway
transjakarta pun berhenti di halte Pondok Indah 2. Dalam sekejap, Mila
keluar bus. Matanya berkaca-kaca. Pipinya basah.

Ronald masih terdiam sambil memandangi kepergian Mila. Lalu kemudian
tepat ketika pintu bus transjakarta akan menutup, Ronald berdiri,
berlari, dan berteriak.

“Mila! Aku juga mencintaimu!”

7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *