Short Story #205: Sepakat

“Apa pertanyaan yang menurutmu susah dijawab?” Alvin bertanya.

“Hmm…” Maggie menggumam. “Sepertinya pertanyaan akademis.”

“Maksudmu, pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan?”

Maggie mengangguk tanda menjawab.

“Kenapa begitu?” Alvin bertanya lagi. Penasaran.

“Karena aku kan ga belajar semua ilmu pengetahuan. Pasti hanya ilmu yang kupelajari aja yang bisa kujawab pertanyaannya.” Maggie menjelaskan pada kekasihnya itu.

“Oh..”

“Kalo menurutmu?” Maggie bertanya balik. Matanya berbinar-binar tanda penasaran.

“Sepertinya pertanyaan, ‘Will you marry me?’” Alvin memberitahu.

“Lho, emang kenapa dengan pertanyaan itu?” Maggie makin ingin tahu.

“Karena menikah itu kesepakatan antara kedua belah pihak, bukan pemaksaan kehendak salah satu pihak.” Alvin menjelaskan. “Tentunya, kadang untuk mencapai kesepakatan itu agak sulit dan perlu proses.”

“Tapi bukan berarti ga bisa dijawab, ‘kan?” Maggie menyanggah.

“Ya memang. Tapi kan tetap saja susah dijawab. Perlu proses, yang mungkin cukup lama.” Alvin memberitahu. “Seperti kita.”

Dahi Maggie berkerut. Kalimat terakhir Alvin terngiang-ngiang di benaknya.

“Sepertinya kamu salah.” Maggie akhirnya berkomentar.

“Kok bisa?” Alvin penasaran.

“Begini, coba kamu yang tanya ke aku.” Maggie meminta.

“Pertanyaan itu?”

“Iya. Coba cepat kamu tanya.”

Alvin menarik napas. “Will you marry me?”

“Of course I will.” Maggie menjawab segera.

Alvin mendadak kehabisan kata-kata. Speechless.

“Nah, buktinya aku cepat sepakat denganmu.” Maggie memberitahu sambil tersenyum jahil.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *