Short Story #204: Ruang

“Yang..” Nina memanggil Jeremy dengan nada lembut. Matanya memperhatikan TV sementara kepalanya berada di pangkuan Jeremy.

“Hmm..” Jeremy menjawab tanpa kata-kata. Ia masih asyik membaca surat kabar hari ini walau sudah malam.

“Aku cinta kamu.” Nina memberitahu. Matanya melirik sekilas, menunggu balasan.

“Aku juga cinta padamu, Sayang.” Jeremy langsung membalas. Matanya tetap pada surat kabar.

“Sungguh?” Nina bertanya. Kali ini ia menatap Jeremy sepenuhnya.

Merasa diperhatikan, Jeremy menatap Nina di pangkuannya. “Iya, dong.”

“Seperti apa kamu mencintai aku?”

“Kenapa kamu nanya begitu?” Jeremy bertanya balik.

“Ya.. karena aku mencintaimu sepenuh hatiku.” Nina memberitahu. “Sebaliknya, kamu begitu juga, ‘kan?

Jeremy diam sejenak sebelum menjawab.

“Engga.” jawab Jeremy singkat yang langsung membuat Nina terduduk di sofa dan menghadap Jeremy yang balik menatapnya.

“Maksudmu, cintamu padaku tidak sepenuh hati kamu?” nada suara Nina meninggi.

“Iya.” Jeremy menjawab singkat lagi. Kali ini dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Masih ada sisa di hati kamu?” nada suara Nina masih tinggi. Nafasnya mulai memburu.

“Ya, begitulah.”

“Kenapa?” Nina memburu pertanyaan.

Jeremy menarik napas sejenak. “Sengaja. Aku memberinya ruang.”

“Supaya kamu bisa leluasa mencari cinta yang baru? Buat jaga-jaga kalo hubungan kita ga berhasil?” Nina menuduh. Telunjuknya mengarah ke Jeremy yang masih balik menatapnya.

Jeremy tak langsung menjawab. Ia mengangkat alisnya tanda heran, tapi kemudian tersenyum. Nina langsung merasa sebal dan hendak berkata-kata lagi ketika Jeremy mengeluarkan suaranya.

“Ga gitu.  Aku memberi cinta ruang untuk tumbuh di hatiku.” Jeremy memberitahu. “Karena menurutku, cinta perlu untuk tumbuh dalam sebuah hubungan, seiring berjalannya waktu.”

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *