Short Story #202: Aku Udah Ga Tinggal Di Sana

Nada sambung terdengar untuk kesekian kalinya. Gelisah. Amanda menunggu seseorang menjawab panggilannya.

“Ya, halo?” seorang pria di ujung telepon menyapa.

“Hai Galih.” Amanda balas menyapa dengan suara pelan.

“Eh.. Siapa ya? Amanda?” Galih bertanya.

“Siapa lagi?” Amanda menjawab dengan pertanyaan.

“It’s been a while.” Galih berkomentar.

“Iya. Aku sibuk ini-itu. Kamu juga pasti sibuk ini-itu.”

“Ya.. begitulah.” Galih merespon. Kemudian terdengar suara hening.

“Lagi di mana, Lih?” Amanda bertanya. Ingin tahu.

“Di jalan.” jawab Galih.

Di jalan ke tempatku, ‘kan?

“Aku lagi mau meeting sama calon client. Bahas potential project.” Galih melanjutkan.

Oh. “Nothing stops you ya.. Bahkan pagi hari saat libur sekalipun. Kamu ga berubah ya.”

“Ya.. begitulah.” Galih merespon.

“Eh, ga lagi nyetir, ‘kan?”

“Aku? Nyetir? Ada juga aku disetirin lah… sama sopir angkutan umum.” Galih memberitahu. “Secara, public transportation is the best way to go.”

“Just like the old ways..” Amanda merespon sambil kemudian beberapa ingatan lama berkelebat di kepalanya.

“Kamu sendiri lagi ngapain?” Galih kemudian bertanya.

Yes! “Aku lagi dandan, siap-siap mau ada acara.” Amanda memberitahu.

“Wah, sepagi ini kamu udah dandan? Keren.. Seingatku, dulu kamu paling males kalo ada acara pagi-pagi.. Apalagi kalo harus dandan.”

Dia masih ingat! “Ya begitulah.” giliran Amanda menjawab. “Some people changes…”

“…while some others don’t.” Galih melanjutkan.

“Aku penasaran.. apa sih hal yang paling kamu ingat dari waktu-waktu kita dulu?” Amanda akhirnya berani bertanya hal yang membuatnya menelepon Galih.

Hening. Galih tak langsung menjawab. Amanda menunggu. Gelisah kembali menghampirinya.

“Kenapa kamu nanya begitu?” Galih akhirnya menjawab setelah beberapa menit.

“Karena aku pengen tau.” Amanda memberitahu.

Hening kembali, walau begitu Amanda dapat mendengar suara napas Galih melalui telepon.

“Yang paling kuingat adalah.. semua itu masa lalu.” Galih memberitahu. “Dan aku udah ga tinggal di sana, sejak lama.”

Klik. Hubungan telepon terputus.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *