Short Story #201: Setia?

“Mendingan kamu berhenti nangisin dia, deh.” Rika memberi saran.

Vania menyapukan tisu ke bawah matanya, menyeka air mata yang berlinang di sana. Sesekali, ia sesenggukan. Tak ada kata-kata yang menjawab saran Rika.

“You’d better be stop.”

“Ga bisa…” jawab Vania dengan suara parau.

Rika menarik napas. “Trus, mau nangis sampe kapan?”

“Ga tau..” Vania menjawab cepat dengan nada agak tinggi. Sebal.

Rika menarik napas lagi, lalu mengganti posisi duduknya di sofa depan Vania. Ia kini menatap ke arah jendela apartemen tempatnya tinggal berbagi dengan Vania.

“Sederes apapun hujan, sengeri apapun badai, pasti bakal berhenti dan lewat. Udah gitu ganti deh sama cerahnya matahari atau langit yang baru.” Rika berkomentar.

Vania terdengar sesenggukan.

“Bahkan ujan aja ga sembarang turun buat sekadar ngebasahin bumi, tapi karena emang uap air udah kekumpul di hari yang begitu panas.” Rika menambahkan. “Masa’ iya kamu numpahin air mata buat orang seperti Bimo yang kampret itu?”

“Konyol.” suara Vania terdengar pelan saat merespon. “Masa’ iya nyambungin antara ujan, uap air, dan hari yang panas sama aku nangis, sih?”

Tanpa melihat, Rika tahu jika kondisi Vania sudah membaik seketika.

“Alasan aku nangis sebenernya karena aku setia, Rik.. bukan apa-apa..” Vania memberitahu. Suaranya sudah masih bergetar, tapi tak ada nuansa sedih. “Aku setia kalo udah soal hubungan.”

“Kamu tipe setia atau tipe yang susah move on?” Rika langsung merespon.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *