Short Story #199: Stop and Start

“Jiah, lebih milih yang menor-menor ternyata.” celetuk Anggi di dalam perpustakaan. Ia tengah berdiri melihat keluar jendela, di balik salah satu rak buku terjauh. Lokasi favoritnya untuk menghabiskan waktu atau sekadar kabur dari mata kuliah yang membosankan.

“Siapa?” Brian, sahabat Anggi yang berbeda jurusan, bertanya dengan hanya menggerakkan kepalanya saja, namun masih duduk di lantai dan bersandar ke rak buku.

“Si kampret itu tuh.” jawab Anggi lalu mendengus.

“Oh, cowok gebetan lo itu?” Brian menebak.

“Iya.” Anggi lalu berbalik menghadap Brian. Mukanya masam.

“Kan dari awal juga udah gue bilang, dia tuh lebih suka cewek yang girly. Lah loe, tomboy gitu mana dia suka.”

“Ya kan gue kira ada pengecualian gitu.. Lebih-lebih dia belakangan ini nyaut mulu kalo gue ajak jalan.” Anggi merespon sambil duduk di dinding di bawah jendela. Menghadap Brian.

Brian menyimpan buku yang tengah ia baca ke lantai. Ia lalu berpindah posisi duduknya menjadi di sebelah Anggi. Bersandar ke dinding yang sama.

“Loe udah ngarep, ya?”

“Iya.” nada suara Anggi terdengar sebal.

“Sebel?”

“Ho-oh.”

“Trus loe nyesel?”

“Ya jelas.”

Brian tersenyum kecil. “Nyeselnya jangan lama-lama, ya.”

“Suka-suka gue lah..” Anggi merespon.

Lalu hening. Brian menatap rak buku di depannya lalu mencoba membaca judul-judul setiap buku yang disimpan tegak. Sulit memang, tapi ia menyukai tantangan itu.

“Seinget gue, ini bukan pertama kalinya loe nyaranin gue supaya jangan sebel atau nyesel lama-lama.” Anggi berkomentar. Perasaan sebalnya sudah berkurang.

Brian tak menjawab. Ia hanya menoleh dan menatap Anggi.

“Kenapa sih loe selalu begitu? Why do you always seems to be positive?” Anggi bertanya.

“Karena kalo loe dikelilingi perasaan negatif, loe bakal susah ngerasain seneng. Bakal susah ngerasain yang namanya kebahagiaan.”

“Maksud loe?”

“Ya.. simpelnya gini deh..” Brian mulai menjelaskan. “Ketika loe nyesel karena ga bisa dapetin apa yang loe pengen, perasaan negatif akibat nyesel itu bakal dengan mudahnya nyelimutin loe. Dan, dengan mudahnya pula loe ga bakal sadar bahwa sebenernya, loe udah punya banyak hal yang lebih bisa bikin loe seneng, sebelum terlambat. Saat hal-hal itu hilang atau pergi.”

Anggi tak menjawab. Ia mencoba mencerna kata-kata Brian.

“One of many keys to happiness is, stop regretting things you haven’t had, and start being grateful for things you haven’t lost yet.” Brian memberitahu.”In this case, it’s about boys.”

“Contohnya? Emangnya gue udah punya siapa?”

“Gue.”

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *