Short Story #198: Ga Adil

Kenapa kamu ga ngebiarin aku aja? Kenapa…?” Tiara bertanya lemah ketika menyadari Wahyu memegangi tangannya.

Wahyu tak menjawab. Sejak menemukan Tiara beberapa menit lalu, ia sibuk membelitkan seutas kain panjang ke pergelangan tangan Tiara yang berlumuran darah.

Lepasin aku… lepasin…” Tiara meminta.

Wahyu tak merespon. Kali ini, belitan kainnya sudah selesai dan ia mengambil handuk dari gantungan sebelum kemudian membalutkannya ke tubuh Tiara yang basah kuyup.

Please Wahyu.. biarin aku di sini aja.. lepasin kainnya..

Wajah Wahyu mengencang dan matanya sedikit menajam. Walau begitu kedua tangannya sudah siap untuk mengangkat Tiara. Menggendongnya.

Wahyu…

“Diam!” Wahyu akhirnya membentak Tiara.

Dengan langkah pasti, Wahyu membawa Tiara keluar dari kamar mandi yang lantainya sudah berwarna merah. Perlahan, Wahyu menggendong Tiara turun ruang tamu, lalu menuju teras melewati pintu yang terbuka. Mobilnya sudah siap di sana.

Wah..yu…” suara Tiara makin melemah.

Satu tangan Wahyu berhasil membuka pintu mobil hingga terbuka tanpa mengganti posisi Tiara di kedua lengannya. Perlahan, Wahyu membaringkan Tiara di kursi belakang. Tangan Tiara yang terbelit kain, Wahyu tempatkan di dekat sandaran kepala kursi, lalu ia menarik sebagian kainnya dan mengikatnya agar tangan tersebut tak jatuh ke bawah berharap agar luka di sana tak terus mengeluarkan darah.

Please leave…

BRAK! Wahyu menutup pintu belakang mobil setelah memastikan Tiara sudah berbaring dengan aman. Lalu, ia ke kursi supir dan menyalakan mobil.

Ga adil.. hidup ga adil…” Tiara menggumam lemah.

“Hidup mungkin ga adil kalo kamu pikir begitu!” Wahyu merespon dengan nada tinggi sambil mengemudi dengan kecepatan cukup kencang.

Tiara tak merespon. Antara tubuhnya sudah semakin lemas bercampur dengan keengganannya untuk merespon. Pandangannya serasa berputar, kepalanya terasa ringan namun tak bisa ia angkat karena lemas.

Sambil sesekali melihat ke kursi belakang melalui spion tengah dan menoleh, Wahyu terus mengemudikan mobilnya bermanuver menuju rumah sakit terdekat.

“Andai kamu mikir sebaliknya, pasti kamu bakal sadar hidup itu adil dan selalu ada orang buat kamu.. selalu..” Wahyu berkata pelan seakan-akan bergumam, “Seperti aku yang selalu care sama kamu walau mungkin-”

Tiara tak mendengar lagi kelanjutan kalimat Wahyu. Matanya terpejam.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *