Short Story #196: Friends

“Mama jadinya beli yang mana?” Rick bertanya dengan antusias setelah sedari tadi mendengarkan Sheila bercerita.

“Mama jadinya beli yang warna oranye.” Sheila memberitahu sambil menyeruput kopinya.

“Lah, kok bisa? Seinget aku Mama paling ga suka warna oranye. Buat apapun.”

Sheila terkekeh. “Ya entahlah. Mungkin karena kemaren dia pikir coraknya yang paling bagus, ya yang warna oranye itu.”

Rick kemudian ikut-ikutan tertawa kecil, sambil kemudian meminum kopinya.

“Udah lama juga ya, ga ketemu Mama.” Rick berkomentar.

“Kemaren juga tiba-tiba aja Mama ngomong serupa. Dia bilang udah lama ga ketemu kamu.” Sheila merespon.

“Ya abis gimana, urusan kerjaan ini bikin aku jalan-jalan mulu.”

“Yang aku selalu suka, karena kamu suka bawain aku sesuatu dari hasil jalan-jalan itu walau mungkin ke kota atau tempat yang sama.”

Rick memutar bola matanya. “Pantes semalem ngasitau mau ke sini wiken ini semangat banget suaranya.”

“Well, you know me. Mau gimanapun berusaha nyembunyiin, pasti selalu ketebak.” Sheila memberitahu sambil melihat Rick berdiri dari sofa di dekatnya, lalu masuk ke kamar tidurnya.

Tak lama, Rick kembali ke ruang tengah apartemennya dengan membawa sebuah bungkusan kecil.

“Buat aku?”

“Ya buat siapa lagi?” Rick bertanya balik. “Langsung dibuka, ya. Aku pengen tau ingetan aku masih bagus apa engga.”

Sheila tersenyum sambil langsung menerima bungkusan kecil itu. Dengan rasa penasaran, ia membuka lapisan bungkusan kecil itu. Napasnya seketika terasa berhenti sesaat ketika mengetahui isi dari bungkusan itu.

“Miniatur Eiffel. Asli dari Perancis.” Sheila berkata pelan. “Ingatanmu emang bagus, Rick. Bagus banget.”

Rick mengangkat sebelah alisnya. “Aku tau.”

“Terima kasih, ya.” Sheila langsung mendekati Rick dan memeluknya. Hangat. Erat. Membuatnya teringat beberapa kenangan. Terlebih lagi setelah Rick balas memeluknya.

Beberapa menit terlewat, tapi Rick maupun Sheila seakan-akan belum ingin melepaskan pelukan itu.

“Why don’t we try it again?” Sheila berbisik di telinga Rick yang masih memeluknya.

“You know how I want it so bad.” Rick menjawab dengan bisikan serupa di telinga Sheila.

Hening sesaat. Sheila dan Rick saling melepaskan pelukan.

“Then what’s stopping you?” Sheila bertanya. Miniatur menara Eiffel digenggam kedua tangannya sambil memandang Rick dengan penuh harap.

“Kamu tahu prinsipku, ‘kan?” Rick balik bertanya. “Tiga kali, dan setelahnya aku takkan mencoba lagi….”

“…Dan, sudah dua kali kesempatan tak bisa kita manfaatkan…” Sheila menyambung ucapan Rick.

Rick menghela napas. Sheila membuang pandangannya ke lantai.

“…Aku takut saat kita mencoba lagi untuk ketiga kalinya, dan kejadian yang serupa dua kali sebelumnya terjadi lagi.” Rick memberitahu.

Sheila diam tak merespon. Walau ia coba mengabaikan ucapan Rick, tapi hatinya membenarkannya.

“I’m also afraid that you will be hurt again. I can’t stand for that… no more.”

Mata Sheila terasa perih sekaligus hangat di saat bersamaan mendengar ucapan terakhir dari Rick.

“Jadi itu ya, kenapa kamu berkali-kali bilang dan mastiin ke aku, kalo kamu nyaman di posisi ini denganku.. as a friend.” Sheila akhirnya berkomentar. Nada suaranya terdengar serak.

Rick mengangguk. “Lovers may leave, but friends stay.”

 

Catatan: Terinspirasi dari adegan di salah satu episode serial Friends.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *