Short Story #195: Menghargai

“Soal Arya lagi?” Yasmin menebak sambil memberikan segelas teh hangat pada Stefi yang baru saja tiba lalu duduk di sofa apartemennya untuk kesekian kali dalam 3 bulan terakhir.

“Iya.” jawab Stefi singkat dengan suara parau.

Yasmin mendengus sementara Stefi meminum teh hangat untuk menghangatkan tenggorokannya.

“Kali ini, kenapa lagi?” Yasmin mencaritahu.

“Sepele.” jawab Stefi singkat. “He doesn’t love me.”

Dahi Yasmin berkerut. “Coba dijelasin dikit. Aku takut salah terka.”

“Aku minta izin dia buat pergi ke pantai sama temen-temen kantor wiken ini. Dan dia marah.” Stefi menghela napas. “Padahal, dia sendiri yang bilang cinta itu saling menghargai dengan cara tidak mengekang dan melarang, melainkan membebaskan.”

Yasmin diam sejenak. Ia mencoba mencerna. “Langsung marah, atau diskusi dulu – dia bilang ga boleh dan ngelarang – baru kemudian marah?”

“Yang kedua.” Stefi menjawab yang diikuti dengan meminum teh hangat.

Yasmin meraba dagunya. “Entah siapa yang bikin perkara duluan, tapi apa yang kamu ucapin sebelum akhirnya ke tempatku?”

Stefi menghela napas. Yasmin ternyata begitu mengenalnya, atau bisa jadi Yasmin selalu mengingat semua kunjungannya yang hampir pasti setelah bertengkar dengan Arya.

“Aku membencinya.”

“Itu aja? Lalu apa responnya?”

“Aku ga sempet dengerin. Pintu udah keburu aku banting sambil aku pergi.” Stefi memberitahu.

Yasmin bergumam kecil.

“Dan kali ini kamu bakal beneran nunggu dia jemput, atau cuman beberapa jam seperti yang lalu-lalu?” Yasmin bertanya lagi.

Stefi menelan ludah. Kedua tangannya masih menggenggam gelas berisikan teh hangat. “Entahlah.”

Yasmin mengangkat sebelah alisnya.

“Kenapa? Kamu keganggu?” Stefi balik bertanya.

“Engga. Kebetulan aku lagi idle aja. Jadi, mau lama-lama di sini juga boleh. Aku ga keganggu.” Yasmin memberitahu.

“Trus? Kok nanya begitu?” Stefi penasaran.

“Ya.. mungkin karena aku pikir kamu dan Arya sama-sama lupa makanya belakangan ini jadi sering ribut. Makanya kamu bilang kalo kamu membencinya tadi – padahal aku tahu aslinya ga gitu, dan juga Arya sebaliknya.” Yasmin berkomentar.

Tangan Stefi bergetar. Tetesan air mata kembali mengalir di pipinya. Yasmin kemudian menyimpan gelasnya, lalu duduk di samping Stefi sambil mengelus-elus lengannya.

“Aku tahu kamu mencintainya, begitupun Arya sebaliknya padamu.” Yasmin memberitahu.

“Gimana kamu bisa tau?” Stefi bertanya.

“Karena ketika kita membenci seseorang itu… sebenernya karena kita lupa cara mencintai orang itu.” jawab Yasmin. “Andai kamu ingat caramu mencintai Arya, mungkin kamu ga bakal sampe benci, ga bakal ribut, dan mungkin bakal tau alasan kenapa dia ga ngebolehin kamu pergi ke pantai.”

“Tapi-” Stefi berusaha membantah yang langsung dipotong Yasmin.

“Mungkin aja, dia udah punya rencana lain sama kamu yang dibikin buat wiken ini.”

Stefi terdiam. Ia menyadari ia belum sempat bertanya tentang itu karena ia keburu sebal karena dilarang ke pantai wiken ini.

“Kamu tau kenapa ada pertengkaran dan kemudian jarak antara dua orang yang saling mencintai?” Yasmin bertanya.

Stefi menggeleng.

“Pertengkaran dan jarak itu ada supaya kedua orang tadi bisa menghargai rasa rindu, rasa sesal setelahnya, dan juga betapa mereka saling menyayangi.”

Dalam hati, Stefi menyetujui ucapan Yasmin. Dan di saat yang bersamaan, rasa rindunya kepada Arya membesar.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *