Short Story #190: Hard

“Jadi, apa keputusanmu?” Nia mencaritahu sambil mendudukkan dirinya di kursi café.

“Belum tahu.” Ari menjawab sambil menghembuskan napasnya.

“It has been a week since I made you found the paper.” Nia bertanya lagi.

Ari tak menjawab. Ia hanya melirik wanita di depannya itu, lalu melirik selembar kertas yang yang berisikan sebuah ajakan yang tidak bisa langsung ia setujui.

Nia membenarkan posisi duduknya lalu mengambil buku menu kecil di meja.

“Aku kira begitu aku datang sekarang, aku tinggal dapet jawaban dan bisa langsung ke rencana berikutnya.” Nia menggumam sambil mengamati daftar makanan.

“Ga segampang itu, Nia.” Ari memberitahu. Kali ini kertas di tangannya sudah di meja dan ia menatap Nia yang balik menatapnya dari balik buku menu.

“Don’t you love me?” Nia bertanya. Buku menu ia simpan, dan ia sedikit mencondongkan badannya ke arah Ari.

Ari tak menjawab.

“Kamu serius ga sih?”

“Aku serius.”

“Trus kenapa belom ada keputusan juga?” Nia bertanya lagi dengan nada menekan.

Ari lagi-lagi tak menjawab.

“Aku kira hubungan kita bakal lanjut ke jenjang yang lebih serius.”

“Memang akan lanjut.” Ari berkomentar.

“Tapi-“

“Aku cuman belum tahu apakah sudah waktunya.” Ari menyela.

Nia terdiam.

“Lalu mau kapan? Sampai kapan kita masih harus berhubungan seperti ini?”

Giliran Ari yang terdiam.

“Kenapa kamu pengen ke jenjang yang lebih serius, sekarang?”

“Karena kupikir sudah waktunya.”

“Untukmu?” Ari bertanya.

“Untuk kita.” Nia memberitahu.

Ari menghela napas.

“You don’t love me, do you?” Nia menuduh dengan nada suara yang dibuat serendah mungkin.

“I love you Nia. I do.” Ari lekas menjawab.

Nia mendengus. Ari kembali menghela napas.

“Aku ga pernah nyangka kalo kamu bakal susah banget buat ngambil keputusan mau nikah apa engga aja sama orang yang kamu cintai…” Nia berkomentar sambil memainkan ujung rambutnya.

Ari diam sejenak.

“Nia, even though making or taking decisions are hard for me, living the decisions and still believing that I made the right decisions are harder.” Ari memberitahu. “Itu makanya aku masih belum bisa ngasih keputusan.”

Nia menatap Ari dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasanya perih.

“It won’t be that hard if you let me stand beside you.” Nia memberitahu.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *