Short Story #19: Last Dance

“Loe keliatan cantik banget, Na. Beneran.” Alan tiba-tiba muncul di samping Ina.

Ina tersenyum. “Thanks Al. Bawaan hari ini kali, ya..”

Kemudian terdengar lagu dansa yang lembut yang diputar oleh DJ.

“May I have a dance with you?” Alan mengulurkan tangan.

“Tentunya boleh.” Ina menjawab sambil mengikuti Alan ke tengah-tengah
kerumunan pedansa.

“Sejak SMA dulu, gue selalu ngebayangin lho gimana rasanya dansa sama
loe,” Alan bercerita sambil berdansa dengan Ina.

“Ah, emang kita ga pernah dansa, ya?”

Alan menggeleng. “Gue ga seberani cowok-cowok loe dulu, Na. Dan, gue
juga ga seberani Marko.”

“Kenapa juga ga berani.. Padahal ‘kan, dari dulu kita temenan..” Ina
menjawab ringan.

“Iya sih, temenan. Tapi ya tetep aja, pas prom night aja gue ga berani
buat ngajak loe jalan bareng, apalagi dansa.”

“Hahaha, padahal kalo waktu itu loe ngajakin, gue mau-mau aja lho..
Apa sih yang ga buat best friend?” jawab Ina.

Alan tersenyum. “Tapi ya, biar gimanapun gue seneng akhirnya bisa
dansa sama loe juga. Walaupun ini last dance.”

Dahi Ina mengernyit. “Maksud loe apa?”

Alan tak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya meski masih
tetap berdansa dengan Ina.

“For all this time, I’m in love with you. But, I never had a chance to
say it. And now, you’ve been already another man’s wife.” ujar Alan.
“And this, on your wedding day, I could finally take a dance with you,
even it’s the last dance.”

Ina diam dan sementara matanya berkaca-kaca.

“Oh my.. Andai loe bilang sebelom tadi pagi, mungkin ini ga bakal jadi
last dance kita, Lan..” jawab Ina lirih.

Perlahan, Ina menempelkan kepalanya di dada Alan. Dan, mereka kembali
berdansa dalam diam.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *