Short Story #178: Sabar

“Aku udah ga tahan..” Lea memberitahu sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh David, lalu menjauh sambil melihat ke jendela, memandangi kota saat malam hari dari ketinggian 10 lantai.

David masih duduk di sofanya. Ia melihat Lea ke arah punggungnya. Besar sekali keinginannya untuk memeluknya, merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tapi…

“Sedari dulu, kita udah tau kan konsekuensinya bakal kaya’ gini. Bakal selama ini. Bakal sesulit ini.” David merespon.

“Iya. Aku tahu. Tapi…” Lea tak melanjutkan kata-katanya. Ia melipat kedua tangannya ke dada, lalu berdiri dan semakin mendekati jendela.

David mengubah posisi duduknya.

“Semua hal memerlukan proses, dan proses memakan waktu.”

“Aku tahu, Vid. Aku tahu.” Lea menjawab dengan nada suara lirih. Ia masih tak membiarkan David menatap wajahnya.

David menggeser duduknya. Ke ujung sofa yang lebih dekat dengan posisi Lea tengah berdiri.

“Kita harus lebih sabar, Le..”

“AKU UDAH CUKUP BERSABAR, VID!” nada suara Lea meninggi sambil tiba-tiba berbalik. Kedua tangannya mengepal, badannya sedikit condong untuk memberikan penekanan.

David terkejut, tapi hanya sementara. Ia berusaha tetap terlihat tenang. Ia sudah berkali-kali menghadapi situasi serupa, dan ia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi yang lebih buruk setiap kali situasi serupa terjadi. Seperti saat ini.

“Jangan begitu…” David memberitahu.

“KENAPA?!” Lea berubah histeris. “Kesabaran itu ada batasnya, Vid! ADA!!”

David berdiri mendekati Lea, tangannya terangkat seperti hendak memeluk tapi tak ia lakukan. Ia membiarkan kedua tangannya terangkat sambil berdiri diam.

“Bersabar itu ga ada batasnya, Le. Yang berbatas itu ‘keinginan untuk bersabar’-nya.” David memberitahu.

Seketika kemarahan Lea luruh. Tubuhnya terasa lemas, namun David ada di sana untuk mendapatkannya dalam pelukan.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *