Short Story #177: Tahu

“Aku ga ngerti kenapa kamu masih aja ngasih kesempatan sama dia.” Indra berkomentar pada Christine yang tengah bengong menatap keluar jendela.

“Kamu ga harus ngerti kok, Ndra.” Christine merespon.

“Memang.. tapi aku jengah aja setiap kali dia berbuat salah, ketauan, lalu dia minta maaf, setiap kali itu pula kamu maafin dia dan ngasih kesempatan lagi buat dia.” Indra langsung bereaksi.

Christine mendengus. Masih dengan tatapan kosong keluar jendela.

“Aku percaya setiap orang bisa berubah.”

“Tapi sepertinya itu ga berlaku buat kamu sendiri.”

“Apa maksudmu?” Christine akhirnya menatap Indra yang sedari tadi duduk di depannya.

Indra menghembuskan asap rokok dari hidungnya. “Iya, kamu yakin orang bisa berubah, TAPI kamu ga yakin kalo kamu sendiri bisa berubah.”

Christine mendengus.

“Mungkin aku udah berubah. Sejak dulu.”

“Maksudmu, sejak kamu memutuskan untuk memilih dia?” Indra bertanya. Beberapa detik kemudian, ia menyesali pertanyaannya itu.

“Jadi kamu selama ini…” Christine tak menyelesaikan ucapannya.

Indra mencoba tetap tenang. Ia menghirup rokoknya, lalu menghembuskan asapnya lagi. Ke arah lorong di antara meja. Ke ruang kosong lain dari hatinya.

“Iya, aku masih mencintaimu.” ucap Indra pada akhirnya.

“Tapi aku mencintainya, Ndra.” Christine segera merespon. “At least, I think I love him.”

Indra mematikan rokoknya ke dalam asbak.

“Lagi-lagi, aku ga ngerti.”

“Kamu ga harus nger-” ucapan Christine terhenti ketika Indra mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan bahwa ia hendak melanjutkan ucapannya.

“Aku ga ngerti kamu itu termasuk wanita yang pintar atau apa..” Indra berkomentar. “Yang pasti, wanita yang pintar, tahu bagaimana mencintai seorang pria. Tapi, wanita yang pernah terluka, tahu siapa yang pantas untuk dicintai olehnya.”

Christine kemudian terdiam, sambil menyaksikan Indra berdiri dari kursinya sambil berlalu pergi.

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *