Short Story #174: Alasan Berubah

Dania berlari-lari kecil di antara lorong supermarket, kemudian menepuk pundak seorang pria yang segera melihat ke arahnya dengan mimik terkejut.

“Sudah lama ga ketemu. Gimana kabarmu, Mar?” Dania bertanya.

“Baik.” jawab Umar singkat. Tangannya meremas pegangan troli belanja.

“Sehat-sehat semua?” Dania bertanya lagi.

“Well.. as you can see right now.” jawab Umar. “Yang paling penting ga kekurangan, sih.”

“Oh ya.. benar.” Dania berkomentar.

Lalu hening. Dania berpikir keras segala macam topik yang mungkin dibahas, tapi.. yang selalu terlintas di pikirannya adalah tentang status.

“Sudah menikah?” tanya Dania lagi. Frontal.

Umar diam sejenak. Matanya sedikit menampakkan keengganan.

“Oh oke, maaf. Bukan urusanku.” Dania segera meminta maaf, menyadari pertanyaannya yang kurang sopan.

Hening. Dania melihat ke arah keranjang belanjaannya, sementara Umar melihat ke Dania sambil sesekali mengamati gerak-geriknya.

“Saat ini aku single.” Umar menjawab pertanyaan Dania yang sebelumnya. Singkat.

“Oh.”

“Kamu gimana?” Umar balik bertanya.

Dania mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Belum. Terlalu banyak cita-cita.”

“Oh iya. Benar.” Umar segera berkomentar.

“Apa maksudmu?” Dania langsung bertanya.

Umar menarik napas. “Mungkin kamu lupa, tapi dulu kamu pernah bilang kalo kamu punya banyak cita-cita.”

“Oh iya. Mungkin.” Dania merespon. Nada suaranya mulai menurun.

“Dan sekarang sudah berhasil diraih semuanya?” Umar kembali bertanya. Penasaran.

“Belum. Karena cita-citanya bertambah lagi setiap kali aku berhasil meraih salah satunya.”

“Oh.”

Hening kembali melingkupi kedua orang yang pernah memiliki sejarah tersebut.

“By the way, kok kamu ke supermarket ke bagian bahan masakan gini? Seingatku, kamu ga doyan masak, dan juga ga doyan belanja.” Dania penasaran. “Ke supermarket itu hal terakhir yang akan kau lakukan, begitu katamu dulu.”

Umar mengangkat sebelah alisnya. “Ya, semuanya berubah. Sama seperti kau yang cita-citanya bertambah setiap kali ada yang berhasil diraih.”

“Oh ya? Sejak kapan?” Dania semakin penasaran. Sebuah titik harapan muncul di dalam hatinya. Berharap Umar telah berubah dan tidak seperti dulu. Tidak seperti terakhir kali saat mereka masih berhubungan.

Seorang gadis kecil tiba-tiba berlari kecil menghampiri troli Umar yang langsung berjongkok.

“Pah.. kita mau beli apa lagi buat dimasak?” tanya gadis kecil itu, yang hanya bisa dilihat dengan tatapan heran oleh Dania.

“Nanti, Papah lagi ngobrol dulu sama temen lama Papah.” jawab Umar sambil mengalihkan pandangan matanya dari gadis itu ke Dania.

Si gadis kecil menoleh ke arah Dania dengan tatapan polos. “Tante temennya Papah?”

“I-iya..” jawab Dania dengan suara agak parau. Tenggorokannya mendadak terasa agak kering sejak kemunculan gadis kecil itu.

“Kapan-kapan, Tante main ke rumah aku ya.. Nanti kita makan bareng masakan Papahku..” gadis kecil itu sedikit memegang ujung rok Dania.

“Iya, manis. Kapan-kapan Tante main kalo Papahmu ngajak.” Dania menjawab.

Gadis kecil itu kembali menoleh ke arah Umar yang masih berjongkok di sebelahnya, lalu berbisik. “Papah.. tante ini cantik, ya..”

Umar tersenyum kecil sambil mendengus, dan menjawab, “Iya.”

“Aku ke lorong sebelah, ya Pah..” gadis kecil itu memberitahu sambil langsung berlari.

“She’s gorgeous.” Dania berkomentar setelah mengamati gadis kecil itu hingga menghilang ke lorong sebelah.

“And she’s the reason why I’ve changed, few years after you left.” Umar memberitahu.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *