Short Story #171: Cita-cita

“Kaya’nya, ga jadi deh sekolah lagi taun ini.” celetuk Armand sambil meneruskan corat-coret kertas di atas meja dapur.

Tina yang tengah menyeruput kopi di dekat kulkas, langsung bertanya. “Kenapa?”

“Ya.. karena ada hal lain yang lebih butuh perhatian. Kaya’nya ya.” jawab Armand segera tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang tengah ia corat-coret tadi.

“Emangnya apa?” Tina mendekat.

“Ya.. beberapa hal ini, dan itu.” Armand memberitahu. “Dan memang ternyata cita-cita buat sekolah lagi itu… kaya’nya ketinggian.”

“Masa?” Tina sudah berdiri di samping Armand. Pandangannya melihat ke arah lelaki yang telah berhasil mengambil hatinya.

“Iya. Buat aku, sekolah lagi itu kaya’ cita-cita yang terlalu tinggi, setinggi langit.” Armand memberitahu sambil terus corat-coret. “Jadi susah ngeraihnya.”

Tina meraih pipi Armand, membuat muka mereka kini saling berhadapan.

“If you put your dreams upon the sky and fail, at least you’ll be landed upon the stars.” Tina memberitahu. Berusaha memberikan semangat.

Armand menghela napas.“Memang gitu sih…”

“Yaudah, kalo gitu tetep semangat dong.” Tina mengecup kening Armand. “Kenapa juga sih kamu mikir gitu?”

Armand diam. Pandangannya kembali ke arah kertas yang tengah ia corat-coret sebelumnya.

“Aku mikir gitu soalnya… kadang cita-cita ga perlu digantung setinggi langit ataupun bintang-bintang.. supaya, lebih mudah diraih. Kadang aja sih.” Armand memberitahu.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *