Short Story #170: Nunggu Pulang

Sisca keluar dari mobilnya dengan langkah gontai. Lelah. Yang ada di pikirannya adalah betapa inginnya ia untuk berendam air hangat di bak mandi, sambil mungkin… dimanjakan oleh pijatan dari tangan-tangan kokoh Andre – kekasihnya, mumpung malam ini jadwal Raul menginap di rumah neneknya. Apalagi, malam ini kan malam ulang tahunnya.

Ah, pikiran itu terlalu muluk, kata Sisca dalam hatinya. Yang ia tahu, ia membutuhkan istirahat yang cukup malam ini. Bisa tertidur nyenyak hingga besok pagi saja, sepertinya sudah lebih dari cukup.

Sisca memutar anak kunci pintu depan rumahnya, lalu membuka dan masuk. Setelah menyimpan jaket di gantungan, ia membuka sandalnya. Seketika, ia langsung menyadari bahwa sandal Raul ada di tempatnya, di rak sepatu.

Raul ada di rumah?

“Kamu ga ga jadi nginep di rumah nenek, Ul?” Sisca bertanya setengah berteriak sambil masuk ke ruang tengah.

Rasa penasarannya akan Raul, seketika berganti menjadi rasa kesal. Iya, ia kesal melihat ruang tengah yang begitu berantakan. Sangat berantakan daripada yang ia tinggalkan tadi pagi. Bantal sofa berada di lantai, karpet yang terlipat, bekas makanan ringan di mana-mana, dan… beberapa kotak kaset yang berserakan.

“Raul!” nada panggilan Sisca untuk Raul mulai berubah. Tak lagi penasaran, melainkan nada kesal. Walau begitu, Raul belum juga menampakkan dirinya.

Sambil menarik napas melihat kekacauan di ruang tengah, Sisca beranjak menuju dapur. Haus. Ia hendak mengambil minuman ringan dari kulkas.

Tapi, bukannya hilang, rasa kesalnya justru bertambah. Sisca mendapatkan dapurnya seperti habis kena gempa bumi. Beberapa bahan masakan berceceran di meja dapur dan lantai. Belum lagi beberapa bekas dan sisa makanan menempel di kompor, dan pegangan kulkas.

“RAUL!” Sisca berteriak sekuat yang ia bisa, sebelum kemudian membuka kulkas dengan kasar, mengambil kotak minuman ringan, dan membanting pintu kulkas hingga menutup.

Sisca mencoba menenangkan dirinya sambil meminum minuman ringan yang ia ambil. Langkah-langkah perlahan mulai terdengar. Dari arah ruang tengah. Pasti Raul tidur ini! Males banget sih, dia?! Udah ABG kok ga belajar tanggung jawab kebersihan rumah, sih?!

Sisca berbalik, dan sudah siap mengeluarkan amarahnya kepada Raul. Tapi.. semua amarahnya mendadak hilang.

“Met ultah ya, Ma.. Kue ini bikinan Raul sendiri lho.” Raul menyodorkan seloyang kue tart dengan hiasan yang kurang rapi. Tiga buah lilin menyala terdapat di atas kue tersebut.

Mata Sisca berkaca-kaca. “Kamu ngapain aja sih, seharian ini?”

“Aku bikin kue ini, sambil nunggu Mama pulang.” jawab Raul sederhana. Sesederhana pelukan yang Sisca berikan ke satu-satunya anak yang ia miliki.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *