Short Story #169: Denganku

“Pergilah.” Widya memerintah setelah mengintip dari lubang di pintu tanpa membukanya.

“Ngetok pintu aja, belom Wid. Kamu udah nyuruh pergi aja.” Hasan merespon dari luar pintu.

“Aku tahu itu kamu yang dateng…” Widya memberitahu. “Kan frontdesk di bawah udah aku titipin pesen kalo kamu yang dateng, aku suruh buat kasitau aku.”

“Oh, pantesan berubah banget sikapnya ketimbang terakhir kali.”

“Jadi lebih galak?” Widya menyandarkan dirinya di dinding dekat pintu.

“Enggak, jadi lebih baik. Lebih sopan. Kaya’ udah kenal aku lama gitu.” Hasan memberitahu. Ia masih berdiri di luar apartemen Widya.

Lalu hening. Widya larut dalam campur aduk perasaan, sementara Hasan larut dalam rasa penasaran.

“Kenapa sih kamu ga mau ketemu aku lagi?” Hasan bertanya.

“Karena aku ga ngerasa perlu.”

“Kenapa?”

“Ya karena aku mikir gitu.” Widya memberitahu dengan nada ketus. Ia sudah berubah menjadi duduk sambil masih bersandar ke dinding dekat pintu.

“Kamu ga penasaran apa maksud aku ke sini?” Hasan memancing.

Widya menarik napas. Diam.

“Apa maumu?” Widya akhirnya bertanya.

“Aku… ingin ketemu kamu.” Hasan memberitahu. “Udah lama kaya’nya sejak terakhir kali kita ketemuan.”

“8 bulan yang melelahkan.” Widya bergumam kecil. Namun, Hasan ternyata mendengarnya.

“Sudah selama itu?”

Widya menarik napas lagi. “You should go.”

“Kenapa?”

“Karena pikiran dan kemauan aku bilang kalo kamu harus pergi.” Widya memberitahu.

Giliran Hasan yang terdiam.

“Why don’t you give me a chance, Wid?” tanya Hasan.

Widya diam sejenak sebelum menjawab. “Kesempatan buat apa? Jelasin kenapa kamu pergi, dan ke mana aja kamu selama ini tanpa ada kabar sedikitpun?”

Hasan terdiam lagi.

“Aku benar ‘kan?” Widya perlahan berdiri lalu mengubah posisinya hingga menghadap pintu.

Sebuah amplop berukuran sedang menyelusup di bawah pintu dari arah luar. Sepertinya, Hasan yang mendorongnya.

“Aku ga perlu surat minta maaf ataupun surat penjelasan..” Widya memberitahu sambil mendengus.

“Buka aja dulu amplopnya, sebelum langsung kamu buang atau bakar.” Hasan memberitahu. “Happy birthday.”

“Sebenarnya, apa sih maumu?” Widya bertanya lagi. Tangannya meraih amplop dari bawah pintu.

“Aku mau kamu bahagia Wid.” Hasan memberitahu. Nada suaranya merendah. “Tapi, aku juga mau kamu bahagia lagi sama aku. Menjalani hubungan yang lebih serius dan pasti, denganku.”

Hening sejenak, sebelum kemudian terdengar langkah kaki menjauh dari lorong depan pintu apartemen. Widya mengintip sejenak dari lubang di pintu, dan melihat Hasan tak lagi di sana. Tapi tak lama, ia kemudian buru-buru membuka pintu setelah mendapatkan cincin emas berhiaskan lumba-lumba di dalam amplop. Sesuai yang pernah ia minta, dulu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *