Short Story #168: Keledai

“Menurut lo, apa makhluk paling bodoh sedunia?” Rasyid tiba-tiba bertanya pada Amanda yang sedang membaca buku di sebelahnya.

Amanda diam sejenak sambil berpikir. Tak lama, ia kemudian menoleh pada Rasyid. “Makhluk yang ngelakuin sesuatu yang ga bener, sampe berkali-kali.”

“He? Maksudnya?” Rasyid bertanya lagi. Semula ia sebenarnya hanya sedang iseng, tapi jawaban Amanda membuat rasa penasarannya timbul.

“Iya. Pokoknya melakukan sebuah hal yang ga tepat sama dirinya, sampe lebih dari sekali.” Amanda menjelaskan.

Rasyid mengernyitkan dahinya. Bola basket yang sedang ia mainkan di antara kedua tangannya, ia biarkan terlepas begitu saja menggelinding ke tengah lapangan dari kursi yang sedang ia dan Amanda duduki.

“Masih ga ngerti?” Amanda balik bertanya.

“Iya. Ga ngerti.” Rasyid langsung menjawab sambil membenarkan letak duduknya. Mulai mengabaikan kondisi lapangan yang masih ramai oleh pertandingan bola basket.

Amanda menutup buku yang tengah dibacanya, lalu menghela napas. “Tau binatang keledai kan?”

“Tau.”

“Nah, banyak kan yang bilang kalo keledai termasuk makhluk yang kurang cerdas.”

“Bodoh maksud lo?” Rasyid menebak.

“Engga, kurang cerdas. Beda itu.” Amanda berkelit. “Udah, back to topic.”

Rasyid diam mendengarkan.

“Ada pepatah yang bilang kalo seseorang itu paling bodoh kalo sampe melakukan sebuah hal yang ga bener sampe berkali-kali, berarti ga lebih cerdas daripada keledai. Pernah denger?” Amanda menjelaskan.

“Yang pernah gue denger sih, kalo sampe melakukan kesalahan dua kali, berarti lebih bodoh daripada keledai. Soalnya, keledai aja ga bakal jatuh ke lubang yang sama, dua kali atau lebih.” Rasyid merespon.

“Ya itulah pokoknya.”

“Trus, apa hubungannya sama pertanyaan gue di awal tadi?” Rasyid kembali bertanya. “Menurut lo, apa makhluk paling bodoh sedunia?”

“Hubungannya adalah.. gue tau siapa makhluk paling bodoh itu.”

“Siapa? Manusia nih? Gue kenal orangnya?” tanya Rasyid antusias.

“Jelas kenal. Kan itu loe sendiri.”

Dahi Rasyid berkerut. Ia sedikit tidak terima dibilang lebih jelek daripada keledai. “Jadi, gue lebih bego dan bodoh daripada keledai? Gitu? Emangnya kenapa?”

“Karena… loe berkali-kali jatuh cinta sama gue.” Amanda segera menjawab.

Seketika, rasa kesal berubah jadi sebal dan geli sendiri. “GOMBAL KAMU!”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *