Short Story #166: Dunia Nyata

“Susah amat, yak..” Annisa bergumam sendiri sambil kemudian mengepalkan tangannya karena sebal.

“Apanya yang susah?” Haris yang sedang duduk di dekatnya langsung merespon.

“Itu.. gue lagi coba nginget-nginget lagi mimpi gue.” Annisa memberitahu.

“Emang mimpi apaan?” Alfa bertanya sambil menghampiri setelah mendengar dari jauh.

“Ah.. ikutan aja loe.” Haris menyela.

“Yee.. gue kan nanya Nisa, biarin dia aja yang jawab lah..” Alfa protes.

“Heh, gue yang mimpi kok ya kalian yang ribut.” Annisa mengingatkan.

“Ya kan gue pengen tau dong Nis, apaan mimpi loe sampe-sampe loe pengen inget..” Alfa menjawab.

“Soalnya loe suka mimpi mesum, tapi pas kebangun suka lupa dan pengen inget, ya?” Haris menebak.

“Heh!” Alfa langsung menonjok bahu Haris yang langsung membalasnya.

Annisa geleng-geleng kepala sendiri. Membiarkan kedua teman lelakinya ini sibuk menghabiskan tenaga mereka.

“Udah kelar?” Annisa bertanya ketika melihat Haris dan Alfa sama-sama sudah duduk lelah di tepi lapangan sore.

“Hmm…” Haris menjawab sementara Alfa mendengus saja.

“Kalo gue inget mimpi gue apaan, ya jelas-jelas gue ga bakal berusaha buat inget-inget. Yang pasti, tadi pagi pas bangun mata gue sembap gitu.” Annisa menjelaskan. “Tapi walaupun sembap, entah kenapa hati gue seneng. Loe bedua ada yang bisa ngartiin?”

Alfa kembali mendengus. Tandanya ia tak mengetahui apapun.

Harus tiba-tiba berdiri, “Loe tau kenapa pas bangun kita sering lupa apa mimpi kita? Supaya kita tahu kalo itu cuman mimpi, & terlepas dari semua perasaan yang kita rasain pas bangun, kita ini hidup dan ngejalanin semua hal di dunia nyata.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *