Short Story #163: Terjaga

“Jangan bilang kamu di sini dari semalam..” Dena menegur Erwin yang tengah duduk diam sambil menikmati kopinya pada kedai kopi di lantai dasar apartemen.

“Umm.. you got me.” Erwin menjawab singkat, sambil membiarkan Dena duduk di kursi depannya.

“It’s not the first time, though.”

“Yep.” jawab Erwin. “And I don’t think, it might be the last.”

Dena menghirup kopinya sambil diperhatikan Erwin. Semacam kejadian pengulangan. Adegan yang sama, tempat yang sama, waktu yang sama.

“Aku harap ini bukan kebetulan, kalo udah 4 atau 5 kali kita ketemu di sini, seperti ini..” Dena berkomentar.

“Maksudmu ketemu di jam yang normalnya orang-orang pada tidur nyenyak?” Erwin bereaksi.

Dena mendengus. Senyuman kecil terlihat di wajahnya.

“Ini yang ke-4.” Erwin memberitahu.

“Apanya yang ke-4?” Dena langsung bertanya.

“Kita, ketemuan, di sini, seperti ini.”

Giliran Erwin yang menyesap kopinya. Dena melihat ke sekeliling kedai kopi yang buka 24 jam di lantai dasar gedung apartemen mereka, dan mendapat beberapa pengunjung ada yang tertidur pulas dan dibiarkan oleh para petugas kedai kopi.

“Another session of nightmare?” Erwin menebak.

Dena menggeleng. “Aku baru sampe apartemen, trus mendadak pengen kopi aja. Kalo kamu?”

Erwin membenarkan letak duduknya sebentar. “Same stories just like yesterday…”

Dena mendengus lagi. “Harusnya kamu bilang ke dia, daripada justru kabur ke kedai kopi dan terus terjaga begini.”

Erwin tersenyum kecil mendengar respon Dena. “What you see, isn’t always as you guess..”

“Maksudmu?”

“Ada dua hal yang bisa membuat seseorang terjaga sepanjang malam hingga pagi menjelang.” Erwin memberitahu. “Kopi, dan… ketidakstabilan emosi.”

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *