Short Story #156: Hilang

Ida membuka matanya perlahan. Kelopaknya berat seperti telah bertahun-tahun ia tak membuka mata, padahal baru beberapa hari saja. Hal pertama yang ia lihat, adalah seorang lelaki yang tengah tertidur di lengan ranjangnya.

Ida mengangkat tangannya pelan-pelan, membelai rambut lelaki itu. Baru dua kali belaian, kepala lelaki itu bergerak, lalu terangkat.

“Kamu sadar juga akhirnya..” ucap lelaki itu dengan nada senang walau wajahnya terlihat begitu lelah.

“Memang sudah berapa hari, Fer?” tanya Ida.

“Ah, sebentar.” jawab Ferry, lelaki itu.

“Sebentar?” Ida merespon. “Sepertinya, terakhir kali wajah kamu kusut seperti itu setelah kurang tidur selama empat hari. Dan kamu bilang, empat hari itu sebentar?”

Ferry menarik napas, senyuman hilang di wajahnya yang berganti menjadi mimik serius.

“Buatku empat hari itu sebentar, daripada harus selamanya tak bisa melihatmu sadar kembali.” jawab Ferry.

Ida yang semula hendak marah, kemudian sedikit terharu. Emosinya bercampur.

“Seharusnya kamu ga usah nungguin aku terus. Urus dirimu juga, supaya kalo aku sadar gini, kamu lebih enak diliat.” Ida mengomentari tampilan Ferry yang benar-benar kusut.

Senyuman kembali hadir di wajah Ferry. “Kalo aku tahu kamu bakal sadar sekarang, ya aku juga pasti mandi dulu, ganti baju dengan yang lebih rapi, plus pake parfum yang kamu suka.”

“Tapi kalo kamu ngurusin aku terus, emangnya kamu ga kerja? Ga masuk kantor? Nanti karir kamu hancur seketika, dong. Siapa tahu, ada kesempatan yang justru hilang seketika.” Ida mengingatkan.

“Gapapa.”

“Kamu yakin?”

“I’m ready to have everything lost, except one.” Ferry memberitahu.

“What’s that?” tanya Ida penasaran.

“You.”

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *