Short Story #151: Melangkah Bersama

“Kopimu sepertinya sudah dingin.” Jane memberitahu Romeo.

“Oh, ya?” Romeo seakan tersadar dan langsung mendekatkan cangkir kopinya ke bibir tanpa meminumnya, lalu menyadari aroma hangatnya sudah hilang. “Iya, sudah dingin.”

“Mau pesan lagi?” tanya Jane.

“Ga. Ga usah.” jawab Romeo sambil menaruh cangkir kopinya, lalu menatap keluar jendela kedai kopi lagi seperti sebelum diberitahu Jane soal kopinya.

“Soal dia lagi?” tanya Jane.

“Ya.. memangnya apalagi?” jawab Romeo tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Jane tak melanjutkan. Ia membiarkan sahabatnya tersebut kembali larut dalam aktivitasnya, sementara ia kembali membaca buku yang ia baca sejak sekitar sejam yang lalu.

“Ngelakuin hal-hal begini emang ga bisa bikin kondisi hubungan aku jadi lebih baik sih.. tapi….” Romeo diam sejenak, “..seenggaknya pikiranku jadi lebih tenang daripada sejak seminggu yang lalu.”

“Sudah selama itu?”

“Iya.”

“Kali ini persoalannya gawat, ya?” tanya Jane penasaran.

“Selalu gawat kalo sama dia sih.” Romeo memberitahu, namun terdengar seperti sebuah keluhan.

“Kamu udah coba cari jalan keluar? Udah ngobrol bareng?”

“Kalo belom, ga bakalan deh aku jadi mumet gini. Kamu tau sendiri kan, aku tuh tipe orang yang kurang peka. Suka ga merhatiin apapun, sebelum kemudian diajak ngobrol bareng..” Romeo kali ini menjawab sambil melihat ke arah Jane.

“Oh… iya sih.”

“Persoalannya sederhana sih, tapi ya.. kadang soal yang sederhana itu sulit diselesaikan kalo udah menyangkut jalan hidup.”

“Maksudmu?” Jane menyimpan bukunya ke meja, dan kemudian melihat serius ke Romeo.

Romeo menarik napas. “Dia ga pengen merit. Sementara….”

“Iya, aku tau. Kamu udah siap segala macem ya.” Jane meneruskan.

“Itu dia.” Romeo merespon. “Kalo dia emang ga pengen merit, ya harusnya dia bilang dong ya sejak semula aku bilang aku pengen merit sama dia.”

“Mungkin, dia terlalu sayang sama kamu, dan takut kehilangan kamu.” Jane mencoba menghibur. “Mungkin.. pada saat kamu ngomong itu, dia masih belum terlalu yakin.”

“Belum terlalu yakin apanya? Belum yakin sayang sama aku, atau belum yakin mau merit?” nada suara Romeo sedikit meninggi.

Jane diam. Ia tak bisa menjawab.

“Mungkin dia lupa.. kalo mau melangkah bersama itu… harus punya tujuan yang sama.” jawab Jane pada akhirnya.

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *