Short Story #150: Happiest People

“Aku kadang penasaran gimana bisa ada orang yang sudah berusia lanjut tapi aura wajahnya memancarkan kebahagiaan.” Eva membuka pembicaraan sore itu di kedai kopi. “Sepertinya, hidupnya begitu bahagia, indah, ceria.”

“Siapa yang seperti itu?” Jasmine, rekan sekerjanya merespon dari kursi seberang.

“Ya banyak.” jawab Eva singkat. “I found them on my families, friends, office-mates, colleagues, and so. Bahkan ketemu sekali doang di angkutan umum pun, bisa langsung ketebak auranya bahwa dia memiliki aura yang memancarkan kebahagiaan.”

“Happy people.” giliran Rio, masih rekan sekerja Eva, merespon setelah mendengarkan penjelasan Eva.

“Iya, happy people. Or maybe, happiest people on their circle.” Eva menambahkan.

“Mungkin, karena sudah usia lanjut, jadinya mereka ga gitu mikirin yang ribet-ribet. Jadinya, mikir yang gampang, simpel, dan bikin seneng. Jadilah keliatannya bahagia terus.” Jasmine berasumsi.

“Mungkin…” jawab Eva.

“Atau.. mungkin juga dia udah punya segala yang dia pengen dan butuh.” Jasmine menambahkan. “They might already have all the best of everything in life.”

“Tapi belum tentu begitu sih. Kadang, orang yang memang memiliki aura kebahagiaan itu sudah dibentuk sejak sebelum berusia lanjut. Dibentuk dari sifat dan juga sikapnya.” Rio menyanggah. “Terutama, bagaimana dia memandang dan berbuat dalam hidup.”

“Maksudmu?” tanya Jasmine. Eva di depannya hanya melihat dengan tanda tanya ke arah Rio.

Rio tak langsung menjawab. Ia meminum kopinya sebentar sebelum melihat kembali ke arah Jasmine dan Eva secara bergantian.

“To be the happiest people, isn’t just about having the best of everything in life… They just make the best of everything they had in life, at anytime.” Rio memberitahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *