Short Story #148: Mapan

“Loe ga pernah punya keinginan buat pulang ke rumah dan ngedapetin ada orang yang nungguin loe, ya?” Valerie bertanya pada Ahmad, salah satu sahabat lelakinya, saat mereka berdua tengah menikmati kopi di kedai dekat kantor, selepas jam kantor.

“Kok loe nanya gitu?” Ahmad malah balik bertanya.

“Yah, abis kaya’nya loe santai-santai aja dengan status loe sekarang ini.” ujar Valerie.

“Emang status apa?” Ahmad bertanya lagi.

“Single and available.” Valerie memberitahu.

Ahmad menyunggingkan bibir atasnya sedikit. “Ah, status itu.”

“Iya, status yang itu.” kata Valerie. “Loe ga nyadar ya, di kantor itu pada ngomongin loe?”

“Oya? Seperti apa?”

“Well, the common girls talk at rest room. Kenapa loe masih single, kenapa loe ga pernah sekalipun mention nama cewek, and few unbelievable questions.”

“Such as, am I straight or not?” Ahmad menebak.

“Bukan.” jawab Valerie. “Pertanyaannya seperti, kenapa loe temenan sama banyak cewek tanpa ada yang deket banget, dan sekalinya ada yang deket malah istri orang.”

Ahmad langsung terbahak-bahak mendengar jawaban Valerie.

“Jadi pada lebih heran kenapa gue malah temenan deket sama istri orang, ketimbang gue straight apa engga, ya. Berarti pola pikir mereka masih jadul, dan ga kaya’ cewek kebanyakan sekarang.” komentar Ahmad. “Mungkin harus gue pedekate-in nih salah satunya.”

“Buat diseriusin?”

“Ya enggaklah.. buat have fun ajah. Buat ngeberentiin omongan-omongan itu..” Ahmad menolak. “Atau justru, supaya omongan-omongan itu makin subur kali, ya?”

“Dih!” Valerie menunjukkan ekspresi jijik sementara Ahmad tertawa lepas.

Beberapa menit pun berlalu. Valerie melirik jam tangannya.

“Apa yang sudah kamu lakukan itu, termasuk salah satu hal yang bikin aku masih seperti sekarang.” Ahmad memberitahu.

Valerie mengernyitkan dahi. “He? Apanya? Liatin jam begini?”

“Iya.” jawab Ahmad dengan santai sambil meminum kopinya. “Aku ga suka bikin orang lain menunggu, karena aku pun ga suka dibuat menunggu.”

“Aku ga nunggu. Aku cuma ngecek aja jam berapa sekarang.” Valerie berkelit.

“Iya, ngecek jam sambil mungkin penasaran kenapa suami loe belom dateng juga, ‘kan?” Ahmad menebak.

Valerie tersenyum sebal. “We’re not talking about me anyway.. It’s about you.”

“Oya?”

“Iya. Dan pemikiran kamu soal ga suka menunggu dan ditunggu itu, pasti dipicu sama alasan lainnya.”

Ahmad tak merespon. Valerie sudah mengenalnya cukup lama untuk mengetahui pasti selalu ada alasan di balik alasan yang ia ungkapkan.

“You know too much about me.” Ahmad berkomentar.

“Tapi aku belum tau apa alasan penyebab kamu ga suka menunggu dan ditunggu itu.” Valerie merespon. “Emangnya kenapa, sih?”

Ahmad menarik napas. “Aku pengen mapan dulu, Val.”

“Mapan? Mapan apanya? Kondisi kamu sekarang yang mampu buat punya apapun yang dibutuhkan dan diinginkan itu, ga bisa dibilang mapan, ya?” Valerie langsung bertanya.

Ahmad mendengus. “Hatiku belum mapan, Val.”

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *