Short Story #144: Mimpi

Evan baru membuka pintu ketika dering telepon apartemennya berhenti. Tanpa terburu-buru, ia pun menyimpan jaketnya ke belakang pintu dan membiarkan mesin penjawab otomatis menyala.

“Hai, saat ini Evan ga bisa angkat telepon. Kalo kamu ada pesan, kasitau aja setelah bunyi bip yaa..” terdengar rekaman suara Evan yang kemudian diikuti bunyi bip panjang.

Setelah menutup pintu, Evan langsung menuju dapur kecilnya yang berada dekat dengan pintu. Ia pun mendengarkan kira-kira siapa yang akan merekam pesan di mesinnya.

“Van..” ucap sebuah suara di ujung teleponnya yang kini terekam di mesin penjawab otomatis. Sebuah suara dan panggilan yang membuat Evan mendadak beku, dan menunggu. “Gimana kabarmu sekarang?”

Beberapa potongan ingatan muncul di benak Evan. Walau begitu, ia mencoba tetap bergerak. Mencari air minum. Mencoba tetap berada di kenyataan saat ini.

“It’s been a while since your last call. I wonder have you changed since then.” ujar suara tersebut. “But for sure.. I’ve changed.”

Evan meneguk air mineral yang telah ia ambil dari kulkas. Sambil duduk di kursi dapurnya, ia menatap mesin penjawab otomatis yang berada di seberang dapurnya.

“By the way, gimana kabar Mamamu? Gimana usaha catering-nya?” suara tersebut bertanya. “Andai kita di kota yang sama, mungkin hampir setiap hari aku minta kirim makanan dari catering Mamamu.”

“Yeah, right..” Evan merespon tanpa beranjak dari tempatnya.

Lalu hening beberapa saat. Evan meneguk air mineralnya. Sempat ia mengira bahwa penelepon sudah menutup teleponnya hingga terdengar suara lagi.

“Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba aku nelepon kamu…” kata penelepon tersebut, “Aku juga ga tau sih kenapa aku telepon kamu. Tapi yang pasti…”

Kemudian terdengar suara pelan. Seperti desahan. Seperti tanda gelisah.

“Aku memimpikanmu..”

Evan tiba-tiba bergerak. Ia berdiri dan mendekati mesin penjawab telepon tersebut. Tapi.. tangannya masih terasa kaku untuk mengangkat gagang telepon.

“Memimpikanmu itu menyenangkan, Van.. Banget..” si penelepon memberitahu. “Tapi kemudian terbangun, dan nyadar kalo semuanya cuman mimpi itu… menyebalkan.”

Evan menarik napas.

“Apalagi, kalo ga tau apa arti dari mimpi itu.. It’s killing me..” penelepon tersebut melanjutkan.

Dada Evan berdebar-debar. Ia berusaha memantapkan hatinya untuk membuat pilihan. Sebuah pilihan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidupnya. Pilihan untuk menggunakan kesempatan. Kesempatan memperbaiki masa lalu.

“Van… aku…” penelepon tersebut seakan-akan kehabisan kata-kata.

Sambil menarik napas dalam-dalam Evan memberanikan tangannya untuk mengangkat gagang telepon dan langsung memanggil, “Donna!”

Tapi yang Evan dengar selanjutnya adalah.. “Klik.”

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *