Short Story #132: Where Were You?

“Kamu terlambat. Banget.” Jenny memberitahu lelaki yang baru saja membuka pintu di depannya, dari sofa nyamannya di ruang tengah yang tak memiliki batas nyata dengan pintu depan.

“Iya, aku tahu. Maaf.” jawab Brian sambil meletakkan mantelnya di balik pintu, dan membuka sepatunya.

“Satu jam lebih aku nunggu di resto itu, dan kemudian aku diminta pergi sama waitressnya kalo ga pesen apa-apa.” Jenny meneruskan.

Brian tak menjawab. Ia hanya melihat sekilas Jenny dengan pandangan bersalah, lalu duduk di sofa depan Jenny.

“Ga ada satupun info dari kamu kenapa tadi ga dateng-dateng.”

“Aku… aku lagi ngerjain sesuatu.” Brian menjawab. Masih dengan nada bersalah. Pandangannya ia tujukan ke lantai dari sofa tempat Jenny duduk.

“Ngirim SMS aja ga bisa? Atau miskol gitu? Atau email? Teknologi kan udah maju.. Digunain dikit kenapa, sih? Ga sampe 5 menit lho ngabarin aku..” nada suara Jenny meninggi. Tapi posisinya masih duduk di sofa. Sebelah tangannya gemas meremas tangan sofa.

Brian menelan ludah. Ia punya jawabannya, tapi ia tahu jika Jenny tak perlu jawaban. Ia hanya meneruskan mendengarkan Jenny.

“Jangan bilang kalo kamu meeting lagi? Masa iya meeting kok ya sampe malem-malem.. Ga bisa pulang apa buat menuhin janji dinner yang udah kita arrange seminggu yang lalu?” ucap Jenny dengan nada suara meninggi lagi.

“Aku ga meeting.” jawab Brian pada akhirnya.

“TRUS APA? NGAPAIN? SAMA SIAPA? DI MANA?” Jenny berteriak hingga berdiri.

Brian melihat sekilas, namun kembali menundukkan pandangannya.

“Sometimes.. I feel like I don’t know you..” ucap Jenny. “Bahkan seorang superhero bisa dengan mudah diketahui lagi di mana, ngapain, sama siapa. Kaya’ tadi selagi aku nunggu kamu, seorang superhero bantu nyelametin orang-orang di kebakaran gedung yang jaraknya beberapa belokan dari resto.. Sementara kamu…”

Jenny mengakhiri ucapannya dengan nada menggantung yang diikuti dengan desahan pelan.

“Where were you?” tanya Jenny sambil diam sejenak. Menunggu Brian menjawab. Tapi tak ada jawaban yang Jenny dapatkan.

Jenny kembali mendesah dan pergi ke kamarnya, sebelum kemudian menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.

“I was there.. helping people through the fire..” jawab Brian pelan sambil membuka kemejanya yang dikotori abu dan terdapat garis gosong terkena percikan api.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *