Short Story #13: Surprise Lunch

Rini baru keluar dari kamar mandi wanita ketika ponselnya berbunyi. Sekilas terlihat di layarnya, Agus yang menelepon.

“Halo Gus, tumben nelepon siang-siang gini. Ada apa?” Rini membuka percakapan.

“Iseng aja, Rin. Loe lagi apa?” tanya Agus.

“Baru keluar dari toilet. Gue rencana mau makan siang sih nih. Udah jam dua belas lewat kan.” jawab Rini.

“Ooo..” ucap Agus, “Eh, emang deket kantor loe ada tempat makan yang enak?”

“Enak di lidah sih banyak, tapi kalo enak di kantong dikit doang. Tau sendiri lah kalo kantor di Sudirman gimana. Susah bener cari warteg.” Rini berjalan kembali ke kubikelnya sambil masih menelepon.

“Haha.. udah jadi manajer, masih aja makan nyari warteg. Fasilitas uang makan dipergunakan dengan baik dong, Rin.” Agus menyarankan.

“Iya sih, tapi gue sebenernya lagi ngumpulin tu duit. Gue pengen jalan-jalan lagi soalnya.”

“Wuih, asik bener kaya’nya jalan-jalan mulu. Emang mau ke mana?” tanya Agus.

“Ga jauh-jauh. Paling Bali. Gue seumur-umur belom pernah ke sana soalnya.”

“Heh, serius?! Loe udah pulang pergi Singapore, Vietnam, sampe Korea segala, tapi belom pernah ke Bali?!?”

“Iya, Gus. Belom pernah gue. Lagipula, ke Singapore, Vietnam dan Korea itu kan trip dari kantor. Bukan dalam rangka gue sendiri yang liburan. Gitu lho..” jawab Rini.

“Ooo.. yayaya.. I see.” jawab Agus. “Eh tapi, gue juga belom pernah ke Bali sih.”

“Hahahahaha.. payah loe ah. Ngata-ngatain orang, sendirinya belom pernah.” Rini duduk sementara di kursi kubikelnya sambil membuka laci, dan mengambil dompet.

“Ya.. mau gimana lagi ya.. Kerjaan gue menyandera gini kan.. Jadi sulit kalo mau jalan-jalan. Hari libur yang bukan cuti aja, kadang-kadang masih tetep harus masuk.”

“Tapi yang penting duitnya kenceng kan Gus..”

“Iya juga sih.”

Rini lalu berdiri, dan beranjak menuju lift. Ia bergabung dengan beberapa orang lain yang berkantor di lantai yang sama di gedungnya, dan sedang menunggu lift untuk turun dan istirahat siang.

“Eh, gimana kalo kita obrolin soal Bali trip itu sambil makan siang. Mau?” tawar Agus.

“Hah? Makan siang? Kapan?”

“Ya sekarang lah..”

Tepat sedetik kemudian pintu lift membuka dan terdapat seorang pria sedang memegang sebungkus bunga mawar merah segar yang menutupi wajahnya.

“Sekarang, Gus? Seriusan loe? Jadi kaya’ surprise lunch gini..” Rini bertanya, tapi Agus tak kunjung menjawab. Sementara itu, orang-orang yang tadi juga berkumpul di depan lift perlahan menyingkir mempersilakan pria tersebut keluar.

Pria yang wajahnya masih tertutup bunga itu berjalan perlahan menuju Rini yang sudah menoleh untuk melihat. Rini sendiri masih penasaran dengan telepon dari Agus, tapi tak bisa mengurangi keheranannya melihat bungkusan bunga mawar merah sedang menuju ke arahnya.

Seketika pria itu berhenti. Ia menurunkan sebungkus mawar merahnya, dan memperlihatkan wajahnya.

“Iya, lunch-nya sekarang Rin. Gapapa kan kalo jadi surprise lunch?”

Seketika wajah Rini merona sambil diperhatikan Agus yang tersenyum. Tak lama, orang-orang yang sedang berada di depan lift pun riuh dengan sorakan dan suitan. Tak lupa, beberapa pun bertepuk tangan.

7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *