Short Story #126: Dikenang

“Udahlah Jo.. move on..” Rani mencoba menghibur Joan, sahabatnya yang lagi-lagi menatap kosong ke satu titik.

Joan tak menjawab.

“He’s gone. And, you’d better be moving on.” Rani memberitahu.

“He’s not gone. He’s still here.” jawab Joan singkat.

“Maksudmu di perasaanmu, kan? Bukan semacam rohnya masih di sini?” tanya Rani segera sambil tiba-tiba bulu kuduknya merinding.

Kali ini Joan menatap sekilas ke Rani, masih dengan ekspresi datar, mengedipkan matanya kemudian melihat ke satu titik lagi. Mengabaikan sekelilingnya.

“Udah sebulan lewat lho..”

“Aku tahu.” jawab Joan.

Rani menarik napas. Mencoba mengabaikan Joan dengan melarutkan pikirannya ke sebuah buku cerita yang ia keluarkan dari dalam tas.

“Cinta itu.. walau sesaat namun dikenang selamanya..” Joan menggumam.

Rani menurunkan bukunya sejenak, dan memandang Joan. Tak yakin jika gumaman tadi berasal dari Joan.

“Walaupun menyakitkan?” Rani mencoba bertanya. Mengetes apakah benar gumaman tadi berasal dari Joan.

“Iya, walaupun menyakitkan.” jawab Joan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *