Short Story #125: Kan Ada Kamu…

“Kopi atau teh?” tanya Rena pada Didi saat ia duduk di kursi dapurnya.

Dengan wajah muram, Didi melihat sejenak sambil berusaha untuk terlihat lebih ceria.

“Teh aja.. Yang kentel, biar pait.” jawab Didi singkat.

Rena berbalik sambil mengambil cangkir dari lemari dapurnya, dan memasukkan sekantung teh instan sebelum kemudian ia menambahkan air panas ke dalam cangkirnya.

“So, another night without sugar, eh?” tanya Rena sambil menyimpan cangkir teh pahit panas ke meja di depan Didi.

“Kamu tahu kan aku ga minum manis-manis.” jawab Didi.

“Iya, ga minum yang manis-manis kalo di depan aku. Kalo lagi ga di depan aku, mana aku tau?” Rena merespon segera sambil mengikat rambutnya yang tergerai.

“Sori ya, aku udah ganggu tengah malem buta gini. Abis, aku pusing dan males pulang..” Didi menarik cangkir tehnya sambil mulai meniup agar lekas agak teduh.

“Gapapa. Aku juga kebetulan belum tidur dan lagi baca buku.” jawab Rena sambil menepuk-nepuk sebuah buku yang tertelungkup di meja dapur. “Terrible work days?”

“Ga juga sih..”

“Trus kenapa?”

Didi diam sejenak sambil menyesap teh pahit yang sudah agak teduh.

“Horrible work days..” ucap Didi segera yang disambut Rena dengan tertawa.

“Sekarang aku tau kenapa kamu selalu minum minuman tanpa gula, entah itu kopi atau teh.” Rena mengambil kesimpulan.

“Oya? Kenapa?”

“Supaya kamu tau, ada yang lebih pait daripada yang kamu alamin. Yaitu, minuman kamu..” kata Rena sambil tertawa kembali.

Didi tersenyum kecil.

“Ah, kamu bisa aja, Ren..” ucap Didi. “Tapi bukan itu sih..”

“Lho? Terus apa?” tanya Rena dengan penuh ingin tahu.

“Kan ada kamu.. semua minuman aku langsung berasa manis.” jawab Didi santai namun serius.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *